Layanan Laparoskopi Hadir di RSUD dr. Harjono Ponorogo, Pilihan Baru Operasi Minim Sayatan bagi Pasien Perempuan
![]() |
| Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi RSUD dr. Harjono S. Ponorogo, dr. Fanni Priyo Nugroho, Sp.OG, FESICOG bersama tim, saat menangani operasi laporoskopi kepada pasien. |
Kehadiran layanan ini menjadi kabar baik, khususnya bagi perempuan yang mengalami masalah kesehatan seperti kista ovarium, tumor rahim maupun sumbatan pada saluran indung telur.
Bagi masyarakat Ponorogo dan sekitarnya, layanan tersebut memberikan pilihan baru ketika tindakan operasi memang diperlukan. Pasien tidak lagi hanya mengenal operasi konvensional dengan sayatan yang lebih besar, tetapi juga dapat berkonsultasi mengenai kemungkinan penggunaan teknik laparoskopi sesuai kondisi medisnya.
Laparoskopi dilakukan dengan menggunakan kamera dan instrumen khusus yang dimasukkan melalui beberapa sayatan kecil pada bagian perut. Dokter kemudian melakukan tindakan operasi dengan bantuan gambaran organ bagian dalam yang ditampilkan melalui monitor.
Metode tersebut berbeda dengan laparotomi, yakni teknik operasi konvensional yang umumnya membutuhkan sayatan lebih besar.
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi RSUD dr. Harjono S. Ponorogo, dr. Fanni Priyo Nugroho, Sp.OG., FESICOG., menerangkan bahwa laparoskopi memiliki sejumlah keuntungan bagi pasien.
“Keuntungannya, luka operasi lebih kecil, nyeri biasanya lebih ringan, pemulihan lebih cepat, dan lama rawat inap bisa lebih singkat,” jelas Fanni, Jumat 4 September 2026 lalu, seperti dikutip dari Instagram resmi RSUD dr. Harjono.
Namun demikian, kemudahan dan keunggulan laparoskopi bukan berarti metode tersebut otomatis menjadi pilihan bagi semua pasien.
Dokter tetap harus melakukan pemeriksaan secara menyeluruh sebelum menentukan tindakan yang paling tepat. Ukuran dan karakteristik kista, kemungkinan adanya keganasan, riwayat operasi sebelumnya hingga kondisi organ di dalam perut menjadi sejumlah faktor yang harus dipertimbangkan.
“Jadi tidak selalu laparoskopi lebih baik dan tidak selalu laparotomi lebih baik. Yang paling penting adalah memilih metode yang aman dan sesuai kondisi pasien,” tegas Fanni.
![]() |
| Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi RSUD dr. Harjono S. Ponorogo, dr. Fanni Priyo Nugroho, Sp.OG, FESICOG |
Layanan Laparoskopi Pertama di Ponorogo
Pengembangan layanan bedah minimal invasif tersebut menjadi bagian dari upaya RSUD dr. Harjono S. Ponorogo untuk meningkatkan pilihan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Kabid Humas RSUD dr. Harjono S. Ponorogo, Sugianto, mengatakan layanan laparoskopi untuk operasi kista ovarium tersebut menjadi yang pertama di Ponorogo.
Menurutnya, layanan tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi pasien dengan kista ovarium. Berdasarkan hasil pemeriksaan dan pertimbangan dokter, teknik bedah minimal invasif juga dapat menjadi pilihan penanganan bagi pasien dengan tumor rahim maupun sumbatan pada saluran indung telur.
“Kami hadirkan untuk masyarakat Ponorogo dan sekitarnya layanan bedah minimal invasif untuk menangani kista ovarium, tumor rahim, sumbatan pada saluran indung telur. Silakan datang dan konsultasi dengan dokter obgyn kami,” ucap Sugianto.
Kehadiran layanan ini, lanjut Sugianto, sekaligus membuka harapan baru bagi perempuan yang selama ini membutuhkan tindakan operasi karena gangguan pada organ reproduksi.
Meski demikian, langkah pertama tetap bukan menentukan jenis operasinya, melainkan melakukan konsultasi dan pemeriksaan medis.
Dokter akan melihat kondisi pasien secara menyeluruh untuk menentukan apakah laparoskopi dapat dilakukan atau justru metode operasi konvensional menjadi pilihan yang lebih aman.
Dengan demikian, teknologi bukan sekadar soal menggunakan metode yang lebih modern, tetapi bagaimana memilih tindakan yang paling tepat untuk keselamatan dan kebutuhan masing-masing pasien.
RSUD dr. Harjono Ponorogo pun terus berupaya menghadirkan layanan kesehatan yang semakin beragam. Laparoskopi menjadi salah satu inovasi pelayanan yang diharapkan dapat memberikan pilihan sekaligus meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan bedah minimal invasif di Bumi Reog.
Bagi perempuan yang memiliki keluhan atau telah mendapatkan diagnosis terkait kista ovarium, tumor rahim maupun sumbatan saluran indung telur, konsultasi dengan dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi menjadi langkah awal untuk menentukan penanganan yang sesuai.
"Sebab pada akhirnya, setiap pasien memiliki kondisi yang berbeda. Metode operasi yang terbaik bukan semata-mata yang paling baru, melainkan yang paling aman, tepat dan sesuai dengan kebutuhan medis pasien," pungkasnya.(AZ)

