BREAKING NEWS

Bunga Desa, Cara Bunda Lisdyarita “Kulakan Persoalan” dari Desa Selur

 


PONOROGO || Metrowilis.com- Kantor pemerintahan tak selamanya harus berada di balik meja, gedung bertingkat, atau ruang berpendingin udara. Bagi Plt Bupati Ponorogo Hj. Lisdyarita, S.H., kantor juga bisa berpindah ke tengah-tengah masyarakat.

Itulah yang dilakukan Bunda Lis—sapaan akrab Lisdyarita—ketika memboyong jajaran pejabat teras Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo ke Desa Selur, Kecamatan Ngrayun, Jumat (11/9/2026).

Sehari itu, sejumlah kepala perangkat daerah meninggalkan rutinitas kantor masing-masing. Mereka “pindah kantor” ke Desa Selur, mengikuti program Bunga Desa (Bunda Ngantor di Desa).

Program tersebut menjadi cara Bunda Lis untuk “kulakan permasalahan” secara langsung dari masyarakat. Bukan sekadar mendengar laporan yang sudah tersusun di atas meja, melainkan melihat dan merasakan sendiri kondisi desa serta berdialog dengan warga.

“Bunga Desa awalnya singkatan dari Bunda Nginap di Desa. Berubah konsep menjadi Bunda Ngantor di Desa karena keterbatasan waktu,” kata Bunda Lis.

Konsepnya kini lebih sederhana. Bupati bersama jajaran kepala perangkat daerah secara bergiliran berkantor di desa setiap Jumat. Namun, substansinya justru diperluas: pemerintah datang kepada masyarakat untuk mendengar persoalan sekaligus mencari solusi dari persoalan tersebut.

“Bunga Desa ini memiliki semangat yang sederhana, tetapi sangat penting. Mendekatkan pemerintah dengan masyarakat,” ungkapnya.

Bagi Bunda Lis, kedatangan ke Desa Selur bukan agenda seremonial. Bahkan, dia rela menjadwal ulang agenda kerja ke Jakarta demi memilih berkantor di salah satu desa yang berada di kawasan selatan Ponorogo tersebut.

Keputusan itu sekaligus menjadi penegasan bahwa pembangunan kawasan selatan tetap menjadi perhatian Pemkab Ponorogo.

“Pelayanan warga dan pembangunan desa perlu dipantau secara langsung,” tegasnya.

Bukan Sekadar Pindah Kantor

Seluruh kepala perangkat daerah yang ikut dalam kegiatan tersebut, mulai kepala dinas, kepala badan, inspektorat, sekretariat daerah hingga camat, diharapkan tidak sekadar memindahkan meja kerja ke desa.

Mereka dituntut melihat langsung bagaimana roda pemerintahan desa berjalan dan apa yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.

“Di sini saya ingin mengetahui apakah pemerintahan di Desa Selur berjalan baik atau tidak? Kan gitu,” tutur Bunda Lis.

Dari desa, pemerintah bisa mendapatkan gambaran yang lebih utuh. Persoalan pertanian, kesehatan, pelayanan pemerintahan hingga infrastruktur menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat yang perlu mendapatkan perhatian.

Infrastruktur, khususnya jalan, bahkan menjadi salah satu persoalan yang diperkirakan kembali muncul dalam dialog bersama warga.

“Ini nanti yang tanya soal perbaikan jalan banyak, nggih,” ujar Bunda Lis.

Pernyataan tersebut menggambarkan satu hal: persoalan jalan masih menjadi pekerjaan rumah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, terlebih di wilayah selatan Ponorogo yang memiliki karakter geografis cukup menantang.

Selur Ingin Ikut Merasakan Kemajuan

Kepala Desa Selur Suprapto menyambut antusias kedatangan Bunda Lis bersama jajaran Pemkab Ponorogo.

Menurut dia, pembangunan di Desa Selur selama ini telah memberikan manfaat bagi masyarakat. Namun, luas wilayah dan kondisi geografis membuat kebutuhan pembangunan masih cukup besar.

“Walaupun sudah dirasakan manfaatnya, tapi pada kenyataannya masih ada kekurangan karena kondisi geografis. Kami menyadari hal itu,” ujar Suprapto.

Kehadiran Bunda Lis bersama para kepala perangkat daerah pun membuka ruang bagi warga untuk menyampaikan langsung berbagai aspirasi.

Bagi pemerintah desa, forum semacam ini penting. Sebab, persoalan yang selama ini hanya disampaikan melalui jalur administrasi dapat dibicarakan secara langsung bersama pejabat yang memiliki kewenangan.

Namun, Suprapto berharap kunjungan tersebut tidak berhenti sebagai agenda sehari.

Dia berharap aspirasi masyarakat yang disampaikan dalam program Bunga Desa benar-benar menjadi bahan pemerintah daerah dalam menentukan kebijakan dan pembangunan berikutnya.

“Harapan seluruh warga Desa Selur dan desa-desa lain di Kecamatan Ngrayun adalah ingin ikut merasakan kemajuan Ponorogo,” ujar Suprapto.

Pada akhirnya, Bunga Desa bukan semata-mata tentang bupati dan pejabat yang meninggalkan kantor untuk sehari.

Lebih dari itu, program tersebut menjadi upaya membalik kebiasaan pelayanan pemerintahan: bukan masyarakat yang selalu datang mencari pemerintah, tetapi pemerintah yang datang mencari tahu apa yang dibutuhkan masyarakat.

Dari Desa Selur, persoalan-persoalan itu dikumpulkan. Dari sanalah pekerjaan rumah pemerintah daerah berikutnya menunggu untuk diselesaikan.(AZ) 

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar