Dari Tenda di Bibir Pantai Pidaan, AWDI Ponorogo Menata Masa Depan Organisasi
Pacitan || Metrowilis.com - Suara debur ombak berpadu dengan percakapan para wartawan. Angin pantai berembus pelan, sementara tenda-tenda berdiri menjadi ruang musyawarah yang tak biasa. Di tempat inilah jajaran pengurus DPC Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia (AWDI) Ponorogo menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) selama dua hari, Sabtu-Ahad (5-6/9/2026).
Bukan ruang rapat berpendingin udara, bukan pula meja panjang dengan suasana formal. Kali ini, Pantai Pidaan, Pacitan, dipilih menjadi tempat untuk berbicara tentang satu hal yang justru serius: masa depan organisasi.
Konsep camping sengaja dipilih untuk menciptakan suasana musyawarah yang lebih rileks, cair dan terbuka. Namun di balik suasana santai itu, berbagai gagasan strategis mengenai arah AWDI Ponorogo ke depan dibahas secara serius.
Rakor tersebut juga dihadiri Ketua DPC AWDI Magetan, Bitner Sianturi alias Ebit, bersama sejumlah tokoh lokal Pacitan.
Bagi Ebit, perubahan suasana dalam kegiatan organisasi seharusnya juga diikuti dengan perubahan kualitas dan cara berpikir wartawan.
Ia mendorong wartawan AWDI untuk terus meningkatkan kapasitas, wawasan dan profesionalitas, sehingga kehadiran pers tidak membuat pejabat publik alergi terhadap kritik, tetapi justru memahami kritik sebagai bagian dari kontrol sosial.
“Wartawan AWDI harus membuat grade-nya naik kelas dengan tidak membuat pejabat publik alergi dan risih. Pejabat publik juga harus siap dikritik wartawan sebagai wujud sosial kontrol dan mengawal keadilan dalam aspek ekonomi, edukasi dan supremasi hukum. Karena itu, wartawan harus meningkatkan ilmu pengetahuan yang lebih luas,” ungkap Ebit.
Desember, AWDI Ponorogo Bersiap Regenerasi
Dari obrolan yang berlangsung di tengah suasana alam terbuka itu, satu agenda penting akhirnya menemukan titik terang.
Ketua DPC AWDI Ponorogo, Anang Sastro, menyampaikan bahwa Rakor menyepakati pelaksanaan Musyawarah Cabang (Muscab) pada pertengahan Desember 2026.
Muscab nantinya bukan sekadar agenda rutin organisasi. Lebih dari itu, forum tersebut diproyeksikan menjadi ruang regenerasi sekaligus estafet kepemimpinan AWDI Ponorogo.
“Hasil musker menyepakati Musyawarah Cabang akan digelar pada pertengahan Desember tahun ini. Ini sekaligus menjadi bagian dari regenerasi dan estafet kepemimpinan AWDI Ponorogo,” jelas Anang.
Keputusan tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa AWDI Ponorogo mulai menyiapkan langkah organisasi untuk menghadapi tantangan ke depan.
Regenerasi diharapkan tidak hanya menghadirkan pergantian kepemimpinan, tetapi juga membawa energi baru, gagasan baru dan kemampuan organisasi untuk beradaptasi dengan perkembangan dunia jurnalistik.
Dari Ruang Redaksi Menuju Ruang Publik
Pembahasan Rakor kemudian bergerak lebih jauh. AWDI Ponorogo sepakat memperluas kerja sama dengan berbagai stakeholder.
Organisasi wartawan, menurut mereka, tidak cukup hanya hadir ketika ada persoalan untuk diberitakan. Kehadiran organisasi pers juga harus mampu membangun komunikasi, membuka ruang kolaborasi dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Karena itu, komunikasi dan sinergitas dengan Pemerintah Kabupaten Ponorogo akan terus diperkuat, termasuk dengan Bupati Ponorogo dan Ketua DPRD Ponorogo yang disebut sebagai dewan penasihat.
Sinergitas tersebut tetap ditempatkan dalam koridor independensi pers dan fungsi kontrol sosial.
Sebab, kritik dan kemitraan bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Pers tetap memiliki kewajiban mengawasi jalannya pemerintahan, sementara komunikasi dengan pemangku kebijakan diperlukan agar informasi dan aspirasi masyarakat dapat tersampaikan secara lebih baik.
Wartawan Tak Hanya Menulis
Satu gagasan lain yang mengemuka adalah memperbanyak kegiatan sosial.
Ketua pelaksana Musyawarah Kerja, Yahya Ali Rahmawan, mengatakan AWDI Ponorogo ingin membangun wajah organisasi yang lebih dekat dengan masyarakat.
Menurutnya, wartawan memang memiliki tugas utama menyampaikan informasi dan mengungkap fakta. Namun keberadaan organisasi wartawan juga dapat diwujudkan melalui berbagai kegiatan positif yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Kita bersama menghilangkan image negatif, meminimalisir ungkapan bahwa wartawan tidak hanya bisa menulis berita dan mengungkap fakta, tetapi juga bisa berkegiatan positif dan sosial,” ungkap Yahya.
Gagasan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kepercayaan publik. Wartawan tidak hanya dikenal melalui tulisan-tulisannya, tetapi juga melalui kepedulian dan kehadirannya di tengah masyarakat.
Dari Pantai Pidaan, gagasan itu seolah menemukan ruang yang tepat.
Debur ombak menjadi latar. Api kebersamaan menjadi pengikat. Dan pembicaraan tentang masa depan organisasi menjadi tujuan utama.
Menatap AWDI yang Lebih Solid
Rakor di Pantai Pidaan akhirnya bukan sekadar kegiatan luar ruang.
Ia menjadi semacam jeda bagi para pengurus untuk melihat kembali perjalanan organisasi sekaligus menyusun langkah berikutnya.
Ada Muscab yang menunggu pada pertengahan Desember. Ada regenerasi yang harus disiapkan. Ada kerja sama dengan stakeholder yang perlu diperluas. Dan ada pekerjaan rumah untuk mengembalikan sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap profesi wartawan.
AWDI Ponorogo kini ingin bergerak dengan wajah yang lebih terbuka: tetap kritis dalam menjalankan fungsi jurnalistik, tetapi juga aktif membangun komunikasi dan kegiatan sosial.
Dari tempat yang jauh dari hiruk-pikuk ruang rapat formal itu, sebuah pesan masa depan dirumuskan:
wartawan tidak cukup hanya mampu menulis, tetapi harus terus belajar, berani menyuarakan kebenaran, menjaga profesionalitas, serta mampu hadir dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Dan mungkin, justru dari tenda sederhana di tepi Pantai Pidaan itulah, perjalanan baru AWDI Ponorogo mulai dirancang.(AZ)
