M. Hasim, M.H (Gus Hasim) Pengacara Senior dan Pengusaha yang Ingin Ponorogo Dipimpin dengan Keberanian, Kecerdasan, Ketegasan dan Keteladanan
![]() |
| Pengacara Senior dan Pengusaha Ponorogo M. Hasim, SH, MH (Gus Hasim) |
PONOROGO || Metrowilis.com - Di tengah dinamika dan berbagai persoalan yang dihadapi Kabupaten Ponorogo, dibutuhkan sosok pemimpin yang tidak hanya berani mengambil keputusan, tetapi juga mampu merangkul seluruh lapisan masyarakat. Pemimpin yang memahami hukum dan aturan, tegas dalam mengambil sikap, namun tetap mengedepankan pendekatan humanis.
Pandangan tersebut disampaikan M Hasim, MH yang juga disapa Gus Hasim, pengacara senior dan pengusaha asal Ponorogo yang selama ini dikenal aktif mendampingi masyarakat melalui profesinya di bidang hukum, ketika di temui di Kediaman Pribadinya Mlarak Senin 31 Agustus 2026.
Menurut Gus Hasim, Ponorogo membutuhkan figur yang memiliki keberanian sekaligus kemampuan untuk merangkul, bukan justru memukul atau mempertentangkan kelompok masyarakat.
“Ponorogo membutuhkan orang yang berani, bisa merangkul, tidak memukul. Siap mengabdi kepada masyarakat Ponorogo tanpa melihat latar belakang maupun golongan,” ujar Gus Hasim.
Baginya, keberanian seorang pemimpin tidak cukup hanya ditunjukkan melalui ketegasan. Keberanian harus dibarengi pemahaman terhadap hukum dan aturan sehingga setiap kebijakan yang diambil memiliki landasan yang kuat serta tidak merugikan masyarakat maupun negara.
“Ponorogo membutuhkan orang yang paham hukum, mengerti aturan dan tegas dalam beberapa hal,” tegasnya.
Sebagai seorang yang berkecimpung di dunia hukum, Hasim menilai persoalan pemerintahan maupun pembangunan daerah tidak bisa dilepaskan dari pentingnya pondasi moral dan kepatuhan terhadap aturan.
Ia berpandangan, ketika pondasi moral, agama dan hukum dibangun dengan kuat sejak awal, potensi terjadinya penyalahgunaan kekuasaan dan tindakan yang merugikan negara dapat ditekan.
“Kalau dari awal pondasinya kuat, tidak akan korupsi dan merugikan negara. Tetapi kalau mementingkan diri sendiri, akhirnya bisa menjadi seperti perampok negara,” ungkap putra seorang ulama di wilayah Kecamatan Mlarak tersebut.
Menjaga Keseimbangan Dunia dan Akhirat
Di balik kesibukannya sebagai praktisi hukum, Hasim juga berusaha menjaga keseimbangan kehidupan melalui kegiatan keagamaan.
![]() |
| M. Hasim, SH, MH (Gus Hasim) saat menggelar Pengajian Khataman Al Quran di Rumahnya Senin 31 Agustus 2026. |
Setiap akhir bulan, ia rutin menggelar khataman Al-Qur'an bersama sejumlah orang di rumahnya di wilayah Mlarak, tepatnya di belakang SPBU. Kegiatan tersebut biasanya diikuti sekitar lima orang.Hal itu dilakukan sejak tahun 2021 hingga sekarang.Hal itu yang merasa dirinya tenang menjalani hidup karena sudah yakin di toto oleh Allah SWT.
Bagi Gus Hasim, kegiatan tersebut bukan sekadar rutinitas keagamaan, melainkan bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat.
“Khataman Al-Qur'an ini kami lakukan setiap akhir bulan untuk memperoleh keberkahan. Ini juga bagian dari ikhtiar menjaga keseimbangan hidup antara dunia dan akhirat,” tutur Gus Hasim yang juga putra ulama di Mlarak ini.
Kebiasaan tersebut menjadi bagian dari prinsip hidup yang ia pegang. Kesuksesan dalam kehidupan, menurutnya, tidak semata-mata diukur dari jabatan, materi maupun pencapaian duniawi, tetapi juga dari sejauh mana seseorang mampu menjaga nilai-nilai moral dan spiritual.
Gus Hasim juga berkeyakinan, jika Ponorogo butuh pemimpin yang memiliki pemimpin yang mapan dalam perekonomian dan berniat ibadah untuk memajukan Ponorogo yang lebih baik. Sehingga akan memimpin dengan baik dan mampu menjaga amanah. Bukan sebaliknya yang berpotensi menimbulkan hal hal negatif.
![]() |
| M. Hasim, SH MH (Gus Hasim) saat memeriksa armada untul angkutan produksi di perusahaanya. |
Latar belakang keluarga yang dekat dengan kehidupan pesantren dan ulama turut membentuk cara pandang Hasim dalam menjalani kehidupan. Nasihat orang tua menjadi salah satu pijakan penting dalam menentukan sikap, termasuk ketika menjalankan profesinya sebagai seorang pengacara.
Di tengah profesinya yang menuntut keberanian membela kepentingan klien, Gus Hasim berupaya tetap menempatkan hukum dan moral sebagai pijakan utama.
Baginya, hukum bukan sekadar pasal dan aturan tertulis. Hukum harus menjadi instrumen untuk memberikan keadilan dan perlindungan bagi masyarakat.
Karena itu, ketika berbicara tentang masa depan Ponorogo, Gus Hasim menekankan pentingnya sosok yang memiliki keberanian, memahami aturan, tegas ketika diperlukan, tetapi tetap mampu merangkul seluruh elemen masyarakat.
Sebab, pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan program dan anggaran. Dibutuhkan keteladanan, integritas serta keberanian untuk menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
“Yang paling penting adalah bagaimana kita bisa mengabdi kepada masyarakat dengan ketulusan, tidak melihat siapa dan dari mana latar belakangnya,” pungkas Gus Hasim.(AZ)


