Pendekar, di Balik Gunungan Garebeg Besar Keraton Surakarta
SURAKARTA || Metrowilis.com - Derap langkah ratusan pendekar pencak silat memecah suasana pagi di kawasan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Rabu (27/5/2026). Berseragam hitam khas perguruan, mereka berjalan berdampingan mengawal prosesi sakral Hajad Dalem Garebeg Besar Tahun DAL 1959.
Di tengah iringan gamelan keraton dan lantunan doa, para anggota Persaudaraan Setia Hati Terate dan IKSPI Kera Sakti tampak bahu-membahu mengangkat gunungan hasil bumi menuju Masjid Agung Keraton Surakarta. Tidak ada sekat perguruan, tidak ada rivalitas. Yang terlihat hanyalah gotong royong dan rasa hormat terhadap tradisi leluhur.
Sekitar 200 warga dari kedua perguruan itu ikut ambil bagian dalam prosesi budaya tahunan yang digelar setiap momentum Iduladha oleh Pakubuwono XIV. Mereka membantu menjaga kelancaran jalannya upacara adat, mulai dari pengawalan gamelan hingga pengamanan jalur kirab.
Suasana penuh persaudaraan terasa kental sejak prosesi dimulai dari dalam keraton. Warga yang memadati kawasan Baluwarti tampak antusias menyaksikan kirab budaya yang sarat makna tersebut. Di sisi lain, para pendekar dengan sikap sigap tetap menjaga ketertiban selama iring-iringan berlangsung.
Juru Bicara resmi SISKS Pakubuwono XIV, KPA Singonagoro, menyampaikan apresiasi atas keterlibatan seluruh elemen masyarakat, khususnya para perguruan pencak silat yang turut mendukung prosesi adat Keraton.
“Sinuwun Pakubuwono XIV menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada saudara-saudara dari PSHT dan IKSPI Kera Sakti yang dengan penuh ketulusan turut membantu dan menjaga kelancaran Hajad Dalem Garebeg Besar Tahun DAL 1959 ini,” ujarnya.
Menurut KPA Singonagoro, keterlibatan berbagai perguruan pencak silat menjadi simbol bahwa keraton adalah ruang budaya milik bersama. Tradisi tidak hanya dijaga oleh keluarga keraton, tetapi juga dirawat oleh masyarakat lintas golongan.
“Sinuwun merangkul seluruh perguruan pencak silat untuk bersama-sama melestarikan adat, budaya, dan tradisi luhur Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Keraton adalah rumah bersama,” lanjutnya.
Bagi masyarakat Surakarta, Garebeg Besar bukan sekadar prosesi adat tahunan. Tradisi ini menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga harmoni antara budaya, spiritualitas, dan persaudaraan sosial.
Di tengah perubahan zaman, pemandangan para pendekar silat yang berjalan berdampingan mengawal gunungan seolah menjadi pesan bahwa warisan budaya Jawa tetap hidup karena dijaga bersama. Dari halaman keraton hingga pelataran masjid agung, semangat persatuan itu terasa nyata di setiap langkah kirab Garebeg Besar tahun ini.(AZ/red)
