Imawan HN : Semangat Juang Pangeran Sambernyowo Masih Relevan untuk Membangun Wonogiri
![]() |
| HRD/Humas RS Amal Sehat Wonogiri Imawan Haris Nursalim |
Wonogiri || Metrowilis.com – Semangat perjuangan Raden Mas Said atau yang dikenal sebagai Pangeran Sambernyowo dinilai masih sangat relevan dalam kehidupan berbangsa dan pembangunan daerah hingga saat ini. Nilai-nilai perjuangan tersebut diharapkan terus menjadi inspirasi bagi masyarakat dan pemerintah dalam membangun Kabupaten Wonogiri yang lebih maju dan sejahtera.
Hal itu disampaikan HRD/Humas RS Amal Sehat Wonogiri Imawan Haris Nursalim, Kamis (21/5/2026) usai menerima penghargaan sebagai peserta favorit napak tilas Pangeran Sambernyowo dalam rangka HUT Kab Wonogiri ke 258 tahun. Menurutnya, meski telah berlalu hampir tiga abad, nama Raden Mas Said tetap dikenang sebagai tokoh pejuang sentral yang menginspirasi masyarakat Wonogiri maupun bangsa Indonesia.
“Raden Mas Said dikenal sebagai pejuang yang tangguh dan luar biasa melawan penjajah. Bahkan perwakilan VOC Belanda bernama Nicolas Harting memberi julukan Sambernyowo karena beliau sangat sulit ditangkap dan mampu mengalahkan pasukan Belanda,” ujarnya.
Ia menjelaskan, terdapat sejumlah nilai ajaran Pangeran Sambernyowo yang masih dapat diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat dan pemerintahan saat ini, terutama ajaran Tridarma.
“Ada tiga nilai utama yakni Ngulat Sariro Hangroso Wani, wajib melu handarbeni, dan wajib angrungkebi. Artinya memiliki keberanian menjaga tanah air dan rakyat, merasa ikut memiliki, serta wajib menjaga dan melindungi,” jelasnya.
Menurut Imawan, semangat tersebut dahulu diterapkan dalam perjuangan melawan penjajah maupun para pengkhianat bangsa, termasuk dari kalangan pribumi dan internal keraton sendiri.
Selain itu, Pangeran Sambernyowo juga dikenal memiliki strategi perang yang cerdas, yaitu jengglungan, sesideman, dan weweludan. Strategi tersebut dilakukan dengan penyamaran dan gerakan-gerakan tak terduga sehingga musuh kesulitan membaca pergerakan pasukan.
“Dulu pengkhianatan juga banyak, sehingga perjuangan harus benar-benar hati-hati. Seperti zaman Jenderal Sudirman juga ada telik sandi karena banyak mata-mata yang ditanam musuh,” katanya.
Imawan menambahkan, jargon perjuangan “Tiji Tibeh” yang diwariskan Pangeran Sambernyowo juga memiliki makna mendalam bagi persatuan rakyat.
“Tiji Tibeh berarti mati siji mati kabeh, mukti siji mukti kabeh. Semangat kebersamaan inilah yang membakar perjuangan para pahlawan untuk mengusir penjajah,” ungkapnya.
Karena itu, dirinya berharap semangat persatuan antara pemerintah dan rakyat terus dijaga dalam membangun Wonogiri yang lebih baik. Ia juga menilai keberadaan paguyuban warga perantau Wonogiri hingga kuliner Bakso Wonogiri yang telah dikenal secara nasional dapat menjadi aset besar bagi kemajuan daerah.
“Semangat perjuangan dan persatuan harus terus diteladani. Semua elemen masyarakat, termasuk perantau Wonogiri dan pelaku usaha Bakso Wonogiri, bisa menjadi kekuatan besar untuk membangun daerah,” pungkasnya.(AZ/red)
