Luar Biasa, Genduri Ageng Nusantara 2026 Digelar di Ponorogo, Sentono dan Abdi Dalem Keraton Surakarta Ajak Masyarakat Lestarikan Budaya Jawa
PONOROGO || metrowilis.com - Sungguh Luar Biasa, Para Sentono dan Abdi Dalem Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat di Ponorogo menggelar Genduri Ageng Nusantara 2026 di kompleks cagar budaya Joglo Dalem Ageng Kyai Ageng Muhammad Besari, Jetis, Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (26/5/2026). Kegiatan bertema “Merawat Tradisi dalam Bingkai Nusantara” tersebut menjadi ajang pelestarian adat istiadat, nilai spiritual, dan kearifan lokal budaya Jawa agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
Acara dihadiri sejumlah Sentono Dalem dan Abdi Dalem Keraton Surakarta yang telah memperoleh kekancingan langsung dari Sinuwun Pakubuwono XIII maupun Pakubuwono XIV. Hadir pula perwakilan Plt. Bupati Ponorogo yang diwakili Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Judha Slamet Sarwo Edi, Ketua DPRD Kabupaten Ponorogo K.R.A Dwi Agus Prayitno, S.H., M.Si, Ketua Perkumpulan Kusumo Handrowino Nusantara Keraton Surakarta (PKHN) Ponorogo K. R. A Suwito Nagoro, para Sentono Dalem dan Abdi Dalem dari berbagai daerah seperti Trenggalek, Ngawi, Tulungagung, dan Sragen, serta unsur Lembaga Adat Dalem Ageng Besari.
Ketua DPRD Ponorogo yang juga Sentono Dalem, K.R.A Dwi Agus Prayitno, S.H., M.Si mengatakan kegiatan tersebut bertujuan untuk nguri-nguri budaya Jawa agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.
“Kegiatan ini untuk nguri-nguri budaya atau menghidupkan adat budaya Jawa, utamanya berkaitan dengan Keraton Kasunanan Surakarta. Ke depan diharapkan lebih meriah dengan melibatkan berbagai unsur terkait,” ujarnya.
Menurutnya, tradisi kenduri dalam budaya Jawa bukan sekadar makan bersama, melainkan sarana berdoa, ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus mempererat gotong royong, kerukunan, dan penghormatan kepada leluhur.
Ia menegaskan, pelestarian budaya dan sejarah daerah merupakan tanggung jawab bersama yang harus terus dijaga lintas unsur pemerintahan maupun adat demi menjaga identitas bangsa.
Sementara itu, Kepala Disbudparpora Ponorogo Judha Slamet Sarwo Edi mengapresiasi langkah para pemangku adat dalam menjaga warisan budaya daerah.
“Budaya adalah identitas bangsa yang harus dilindungi dan dilestarikan. Kegiatan ini sangat penting karena menguatkan hubungan sejarah antara Ponorogo dengan Keraton Kasunanan Surakarta, sekaligus menjaga nilai warisan di kawasan cagar budaya berusia sekitar 300 tahun ini agar tetap lestari,” katanya.
Ketua panitia K.R.A. Suwendi Wijoyonagoro, S.H., M.Si menjelaskan bahwa Genduri Ageng mengandung filosofi luhur kehidupan bermasyarakat.
“Genduri Ageng bukan sekadar seremoni budaya, melainkan sarana menanamkan nilai kebersamaan, rasa syukur, kesederhanaan, kerukunan, dan gotong royong. Kegiatan ini bertujuan agar ruh budaya Jawa tetap hidup dan tidak terputus dari akar sejarah para leluhur,” tegasnya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan ziarah ke makam tokoh pendiri dan leluhur Ponorogo, yakni Makam Batoro Katong, Ki Ageng Mirah, Patih Seloaji, serta Makam Kyai Ageng Muhammad Besari, pendiri Pondok Pesantren Gebangtinatar Tegalsari. Acara kemudian dilanjutkan dengan upacara adat inti, penyampaian pesan kebudayaan, hingga prosesi kenduri sebagai wujud syukur dan kebersamaan.
Dalam kesempatan terpisah, Sekretaris Abdidalem Ponorogo K.R.T. D. Fajar Karyodipuro, S.H., didampingi Abdi Dalem Keraton Surakarta K.R.T Agus Zahid Wartodipuro, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut dengan lancar dan penuh makna.
“Kami sangat berterima kasih atas sambutan positif dan dukungan dari semua pihak. Secara khusus kami mengucapkan terima kasih kepada para juru kunci makam leluhur serta seluruh pengurus Dalem Ageng Kyai Muhammad Besari yang telah memberikan izin, kemudahan, dan sambutan hangat. Kehadiran para Sentono Dalem dan Abdi Dalem dari berbagai daerah juga semakin mempererat persaudaraan,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, Keluarga Besar Sentono dan Abdi dalem Ponorogo mengajak masyarakat memahami bahwa budaya Jawa bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi juga fondasi moral, perekat sosial, dan identitas bangsa yang harus terus dijaga keberlangsungannya lintas generasi.(red)




