BREAKING NEWS

Pengacara Senior Gus Hasim, Putra Kyai Lokal Yang Kini Menasional

 

M. Hasim, S. H, M. H, Pengacara Senior Asal Ponorogo


PONOROGO || Metrowilis.com - Nama pengacara senior M. Hasim, S.H., M.H. semakin dikenal masyarakat Ponorogo. Putra almarhum KH Imam Mahmudi, tokoh agama asal Desa Bajang yang merupakan alumni Pondok Pesantren Lirboyo dan Jampes ini, dikenal sebagai advokat yang kerap mendampingi berbagai perkara hukum dengan pendekatan profesional dan mengedepankan keadilan.

Profesionalitas, jaringan atau relasi yang luas serta managerial yang simple namun bermakna, sepertinya itu semua ada di diri Gus Hasim. Ia tidak hanya menangani perkara perkara di tingkat lokal,namun kini sudah banyak melakukan pendampingan hukum di tingkat nasional.

Di luar profesinya sebagai advokat, pria yang akrab disapa Gus Hasim itu juga mengembangkan sejumlah usaha, mulai dari bisnis air minum, SPBU, usaha es kristal, hingga bidang usaha lainnya. Namun, menurutnya, seluruh pencapaian tersebut tidak terlepas dari doa orang tua dan kerja keras sejak kecil.

"Ketika kelas tiga SD saya sudah berjualan es keliling di Desa Bajang. Sejak kecil saya memang terbiasa berpikir lebih dewasa dari usia saya. Dari situlah saya belajar bahwa keberhasilan tidak datang secara instan," ujar Gus Hasim kepada Metrowilis.com saat ditemui di kediamannya, Kamis (30/7/2026).

Ia menuturkan, pesan sang ayah menjadi bekal utama dalam menjalani kehidupan. Nilai-nilai kejujuran, menghargai sesama, kesabaran, serta sikap tepo seliro terus dipegang hingga sekarang.

"Bapak selalu berpesan agar jujur, menghargai siapa pun, dan sabar. Itu yang saya pegang sampai hari ini. Selain itu, kita diajarkan untuk memiliki rasa tepo seliro dalam kehidupan bermasyarakat," katanya.

Menurut alumnus UIN Lampung tersebut, Ponorogo saat ini membutuhkan sosok yang memahami tata kelola pemerintahan, serta mampu mengembalikan semangat birokrasi pasca berbagai persoalan yang sempat terjadi.

"Ponorogo membutuhkan orang yang paham pemerintahan. ASN harus kembali memiliki semangat bekerja. Pemerintahan harus dijalankan secara elegan, terbuka, dan transparan agar masyarakat mengetahui apa yang sedang dikerjakan pemerintah," ungkapnya.

Gus Hasim juga menyoroti tingginya biaya politik yang menurutnya dapat memengaruhi kualitas kepemimpinan. Ia mengajak masyarakat mulai mengubah cara pandang dalam memilih pemimpin.

"Jangan memilih karena uang atau nilai nominal. Kalau masyarakat memilih dengan hati nurani, maka yang lahir adalah pemimpin yang benar-benar mengabdi. Sebaliknya, kalau seseorang terpilih karena biaya politik yang tinggi, ada godaan untuk mengembalikan modal. Itu yang harus kita hindari," tegasnya.

Ia menilai budaya politik yang bersih dan transparan menjadi syarat penting untuk membangun kembali kepercayaan publik terhadap pemerintah daerah.

"Transparansi harus menjadi budaya. Masyarakat berhak mengetahui bagaimana pemerintah bekerja. Dengan keterbukaan, saya yakin citra pemerintah daerah akan kembali baik," ujarnya.

Meski namanya mulai disebut-sebut dalam berbagai pembicaraan politik lokal, Gus Hasim mengaku tidak ingin terburu-buru berbicara soal jabatan. Baginya, niat utama adalah pengabdian kepada masyarakat.

"Yang paling penting adalah niat. Jangan punya niat lain selain mengabdi. Kalau niat kita lurus, langkah akan terasa ringan," katanya.

Ia pun menyerahkan seluruh perjalanan hidupnya kepada Allah SWT.(AZ) 


Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar