BREAKING NEWS

Ketua DPRD Dwi Agus Prayitno Tegaskan Pesan Kebangsaan: Jaga Agama dan Jaga NKRI, Santri Jadi Pilar Persatuan Bangsa

 

PENGAJIAN :  Ketua DPRD Ponorogo Dwi Agus Prayitno, S.H., M.Si., saat memberikan sambutan pada Acara Pengajian Rutin sekaligus memperingati Hari Santri Nasional  yang digelar PAC Muslimat NU Jenangan,Minggu (18/10/2026).

PONOROGO || METROWILIS.COM – Menjaga agama dan mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan dua tanggung jawab yang harus berjalan beriringan. Nilai-nilai keislaman tidak hanya menjadi pedoman dalam kehidupan pribadi, tetapi juga menjadi landasan untuk merawat persatuan, memperkuat kerukunan, dan membangun masa depan bangsa.

Pesan kebangsaan tersebut disampaikan Ketua DPRD Kabupaten Ponorogo, Dwi Agus Prayitno, S.H., M.Si., saat memberikan sambutan dalam kegiatan pengajian rutin Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Jenangan sekaligus memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Balai Desa Ngrupit, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo.

Di hadapan para peserta pengajian, Dwi Agus menegaskan bahwa santri memiliki peran strategis dalam menjaga nilai-nilai keislaman sekaligus mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa. Peran tersebut tidak berhenti pada penguasaan ilmu agama, tetapi juga diwujudkan melalui sikap dan tindakan nyata dalam kehidupan bermasyarakat.

“Jaga agama dan jaga NKRI. Dua hal ini harus berjalan beriringan. Santri tidak hanya dituntut memahami dan mengamalkan ajaran agama, tetapi juga memiliki tanggung jawab menjaga persatuan, kerukunan, serta keutuhan bangsa dan negara,” tegasnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa semangat keagamaan dan kecintaan terhadap tanah air dapat saling menguatkan. Dalam kehidupan masyarakat yang beragam, sikap saling menghormati, menjaga persaudaraan, dan mengedepankan kepentingan bersama menjadi bagian penting dalam merawat keutuhan Indonesia.
Hari Santri Bukan Sekadar Seremoni
Peringatan Hari Santri Nasional setiap tahun menjadi momentum untuk mengenang kontribusi ulama dan santri dalam perjalanan sejarah Indonesia. Dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan hingga pembangunan kehidupan masyarakat, kalangan pesantren memiliki peran penting dalam menanamkan nilai keilmuan, akhlak, dan pengabdian kepada bangsa.

Dwi Agus berharap, semangat Hari Santri tidak berhenti pada kegiatan seremonial tahunan. Sebaliknya, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya perlu diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, baik dalam kehidupan beragama, bermasyarakat, maupun berbangsa dan bernegara.

Penguatan pendidikan, pembentukan akhlak, kepedulian sosial, serta komitmen menjaga persatuan merupakan langkah nyata yang dapat dilakukan untuk melanjutkan semangat perjuangan para pendahulu.

Dengan demikian, santri diharapkan mampu mengambil bagian dalam menghadapi tantangan zaman, tanpa meninggalkan tradisi keilmuan dan nilai-nilai luhur yang menjadi identitas pesantren.
Muslimat NU Perkuat Silaturahmi dan Kebersamaan
Sementara itu, Kepala Desa Ngrupit, Suherwan, S.H., M.H., menyampaikan apresiasi kepada jajaran pengurus dan anggota PAC Muslimat NU Kecamatan Jenangan yang terus menjaga kekompakan dalam menyelenggarakan kegiatan pengajian rutin.

Menurut Suherwan, kegiatan keagamaan seperti ini memiliki arti penting dalam mempererat tali silaturahmi, meningkatkan pemahaman agama, serta membangun kebersamaan di tengah masyarakat.
Ia juga menyampaikan ucapan selamat memperingati Hari Santri Nasional 2026.

 Momentum tersebut diharapkan dapat memperkuat semangat masyarakat untuk terus menjaga nilai-nilai keagamaan sekaligus berkontribusi positif bagi lingkungan sekitar.

Keberlangsungan pengajian rutin menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk memperkuat hubungan sosial. Melalui pertemuan semacam ini, nilai-nilai keislaman dapat dipelajari dan diamalkan bersama, sementara semangat gotong royong dan kepedulian terhadap sesama terus dipupuk.

Bagi kaum perempuan, khususnya anggota Muslimat NU, peran tersebut juga memiliki arti strategis. Keluarga merupakan lingkungan pertama dalam menanamkan pendidikan agama, akhlak, toleransi, dan kecintaan terhadap tanah air kepada generasi penerus.
Menuju Indonesia Emas 2045
Hari Santri Nasional 2026 jatuh pada Kamis, 22 Oktober 2026, dengan tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Tema ini menempatkan santri sebagai bagian penting dari generasi penerus yang diharapkan mampu memperkuat moral, menjaga tradisi keilmuan, dan berkontribusi dalam pembangunan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.

Tantangan masa depan membutuhkan generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga berkarakter, berintegritas, peduli terhadap sesama, serta mampu hidup berdampingan dalam keberagaman.

Dalam konteks tersebut, pesantren, organisasi keagamaan, dan keluarga memiliki peran yang saling melengkapi. Pendidikan agama membentuk landasan moral, sementara pengalaman bermasyarakat menumbuhkan tanggung jawab sosial dan kebangsaan.
Pengajian rutin PAC Muslimat NU Kecamatan Jenangan pun diharapkan tidak hanya memperkuat spiritualitas dan ukhuwah Islamiyah, tetapi juga mendorong peran aktif kaum perempuan dalam menjaga keharmonisan sosial serta menanamkan nilai-nilai kebangsaan di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Pada akhirnya, pesan “Jaga Agama dan Jaga NKRI” menjadi penegasan bahwa kecintaan terhadap agama dan tanah air bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan seiring dalam membangun masyarakat yang religius, menjunjung tinggi akhlak, menjaga kerukunan, dan berkomitmen terhadap persatuan bangsa.

Dari ruang pengajian di Desa Ngrupit, pesan itu diharapkan terus hidup dalam tindakan nyata masyarakat: mempererat persaudaraan, menghargai perbedaan, dan bersama-sama menjaga Indonesia tetap damai, rukun, serta utuh.(AZ) 

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar