BAHAYA FITNAH, ADU DOMBA, DAN MENJUAL LIDAH: KETIKA NAFSU MENGALAHKAN KEBENARAN
Oleh: KRA. H. Ch. RS Yudonagoro (Kyai Mbeling)
Mengawali tulisan ini, saya berharap kita semua dapat memahami betapa berbahayanya fitnah, adu domba, serta menyebarkan cerita yang tidak memiliki dasar kebenaran. Terlebih jika semua itu dilakukan hanya karena dorongan hawa nafsu, keinginan untuk mencari popularitas, memperoleh sanjungan, atau bahkan mendapatkan keuntungan materi dari sebuah kebohongan.
Apa pun yang dilakukan seseorang, termasuk lantang bersuara karena pesanan atau kepentingan pihak tertentu, pada akhirnya berpotensi melahirkan sesuatu yang tidak baik. Kebenaran tidak seharusnya diperjualbelikan, lidah tidak semestinya menjadi alat kepentingan, dan informasi tidak boleh dijadikan senjata untuk menjatuhkan orang lain.
Jika seseorang berbicara karena pesanan, menyebarkan cerita hanya untuk membongkar urusan orang lain, atau merasa paling mengetahui sejarah dan duduk perkara padahal tidak memahami fakta yang sebenarnya, hendaknya ia berhenti sejenak dan berpikir.
Sebab, berani berbicara tanpa mengetahui kebenaran bukanlah keberanian, melainkan kecerobohan yang dapat mendatangkan penyesalan.
Dalam perspektif Islam, setidaknya ada tiga perkara yang patut kita waspadai:
1. Qaul az-zur, yakni perkataan dusta atau kesaksian palsu.
2. Qaul bi ghairi 'ilm, yakni berbicara tanpa dasar ilmu dan pengetahuan yang memadai.
3. Fitnah dan namimah, yakni menuduh tanpa dasar kebenaran serta mengadu domba melalui penyampaian perkataan yang merusak hubungan antarmanusia.
Ketiganya dapat menjadi sumber kerusakan apabila dibiarkan tumbuh tanpa kendali akal, hati nurani, dan akhlak.
1. Jangan Berbicara Seolah-olah Mengetahui Segalanya
Allah SWT telah memberikan peringatan yang sangat jelas dalam Al-Qur'an, Surah Al-Isra ayat 36:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا
Artinya:
"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya."
(QS. Al-Isra: 36)
Ayat ini mengajarkan bahwa setiap perkataan dan tindakan harus didasarkan pada pengetahuan yang benar. Kita tidak boleh mengaku mengetahui suatu peristiwa, sejarah, atau persoalan apabila kita sendiri belum memahami fakta yang sesungguhnya.
Jangan sampai seseorang merasa paling mengetahui kebenaran hanya karena mendengar cerita dari satu pihak. Jangan pula merasa berhak menghakimi orang lain hanya karena mendapatkan informasi yang belum teruji.
Sebab, apa yang kita dengar belum tentu benar. Apa yang kita lihat belum tentu menggambarkan keseluruhan peristiwa. Dan apa yang kita yakini belum tentu sesuai dengan kenyataan.
Karena itu, sebelum berbicara, bertanyalah kepada diri sendiri: apakah yang saya sampaikan benar-benar berdasarkan pengetahuan, atau sekadar mengikuti prasangka dan kepentingan orang lain?
Ingatlah, pendengaran, penglihatan, dan hati nurani bukan sekadar anugerah, melainkan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT.
2. Tabayyun Sebelum Menyebarkan Berita
Allah SWT juga memberikan pedoman dalam menghadapi berita yang belum jelas kebenarannya melalui Surah Al-Hujurat ayat 6:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ
Artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman, jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan yang akhirnya membuat kamu menyesali perbuatanmu itu."
(QS. Al-Hujurat: 6)
Ayat tersebut mengajarkan pentingnya tabayyun, yaitu memeriksa, meneliti, dan mengklarifikasi informasi sebelum mempercayai ataupun menyebarkannya.
Jika seseorang menyampaikan cerita tentang orang lain, terlebih cerita yang berpotensi merusak nama baik, hubungan keluarga, persaudaraan, atau kehormatan seseorang, jangan terburu-buru mengambil kesimpulan.
Periksa sumbernya. Dengarkan penjelasan pihak-pihak terkait. Teliti bukti yang tersedia. Bedakan antara fakta, dugaan, pendapat, dan kabar yang belum terverifikasi.
Jangan sampai kita menyebarkan berita terlebih dahulu, kemudian baru mencari klarifikasi setelah persoalan menjadi besar.
Ibarat nasi yang sudah menjadi bubur, kerusakan yang telanjur terjadi tidak selalu dapat dipulihkan seperti semula. Nama baik yang tercemar, hubungan yang retak, dan kepercayaan yang hilang membutuhkan waktu serta upaya yang tidak sedikit untuk memperbaikinya.
Oleh sebab itu, jangan menjadikan kecepatan menyebarkan berita sebagai kebanggaan. Lebih baik terlambat menyampaikan informasi karena sedang memeriksa kebenarannya daripada menjadi orang pertama yang menyebarkan kebohongan.
Sikap tergesa-gesa tanpa pertimbangan yang matang sering kali berujung pada penyesalan mendalam.
3. Bahaya Menjual Lidah demi Kepentingan Orang Lain
Dalam Surah Al-Ma'idah ayat 42, Allah SWT berfirman:
سَمّٰعُوْنَ لِلْكَذِبِ اَكّٰلُوْنَ لِلسُّحْتِ
Artinya:
"Mereka sangat suka mendengar berita bohong dan banyak memakan makanan yang haram."
(Potongan QS. Al-Ma'idah: 42)
Ayat ini berada dalam konteks pembicaraan mengenai perilaku pihak-pihak yang gemar menerima kebohongan dan memakan sesuatu yang haram. Pesan moral yang dapat kita renungkan adalah pentingnya menjauhi kebohongan dan segala bentuk keuntungan yang diperoleh melalui cara yang tidak dibenarkan.
Berbicara demi kepentingan tertentu dengan mengabaikan kebenaran merupakan perilaku yang tidak terpuji. Apalagi jika seseorang sengaja memutarbalikkan fakta, menyembunyikan kebenaran, atau membangun cerita untuk membenarkan kesalahan dirinya maupun pihak yang memberinya keuntungan.
Dalam keadaan seperti itu, lidah tidak lagi digunakan untuk menyampaikan kebenaran, melainkan menjadi alat kepentingan.
Seseorang mungkin merasa aman karena memiliki pendukung. Ia mungkin merasa menang karena banyak orang mempercayai perkataannya. Bahkan, ia mungkin merasa berhasil ketika ceritanya menjadi perbincangan luas dan mendapatkan perhatian publik.
Namun, popularitas bukan ukuran kebenaran. Banyaknya orang yang mendukung seseorang juga tidak otomatis membuktikan bahwa semua perkataannya benar.
Jika kebohongan terus dipelihara untuk menutupi kebohongan lainnya, persoalan justru dapat semakin rumit. Kebohongan membutuhkan pembenaran baru, sementara pembenaran yang tidak sesuai dengan fakta berpotensi melahirkan pertentangan dan persoalan berikutnya.
Orang yang berusaha menutupi kesalahannya dengan menjadikan orang lain sebagai alat untuk menyerang pihak tertentu ibarat seseorang yang hanyut di tengah banjir bandang. Dalam keadaan panik, ia berusaha meraih apa pun yang terlihat di hadapannya, berharap dapat menyelamatkan diri.
Namun, tidak setiap ranting mampu menyelamatkan orang yang hanyut. Begitu pula dengan kebohongan dan fitnah. Sesuatu yang digunakan untuk menyelamatkan diri dari kesalahan justru dapat menyeret seseorang ke dalam persoalan yang lebih besar.
Karena itu, jangan menjual lidah demi pesanan. Jangan menukar integritas dengan keuntungan sesaat. Dan jangan menjadikan perkataan sebagai alat untuk merusak kehormatan orang lain.
4. Fasih Berbicara Tidak Selalu Berarti Berilmu
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِيمُ اللِّسَانِ
Artinya:
"Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas umatku adalah setiap orang munafik yang pandai berbicara."
(HR. Ahmad, sebagaimana diriwayatkan dalam sejumlah penomoran hadis)
Pesan yang patut kita renungkan dari hadis tersebut adalah bahwa kefasihan berbicara tidak selalu mencerminkan kelurusan hati dan kebenaran sikap.
Ada orang yang mampu menyusun kalimat dengan sangat meyakinkan, tetapi perkataannya belum tentu sesuai dengan fakta. Ada pula orang yang lantang mengkritik, seolah-olah mengetahui segala persoalan, padahal tidak memiliki dasar pengetahuan yang cukup.
Kita tidak boleh menjadikan kemampuan berbicara sebagai satu-satunya ukuran untuk menilai seseorang.
Orang yang benar-benar berilmu semestinya memahami batas pengetahuannya. Ia tidak malu mengatakan belum tahu, bersedia mendengar penjelasan, dan mau memperbaiki pendapat ketika menemukan fakta yang lebih kuat.
Sebaliknya, orang yang dikuasai hawa nafsu sering kali lebih sibuk memenangkan perdebatan daripada mencari kebenaran.
Padahal, tujuan berbicara seharusnya bukan sekadar membuat orang lain terdiam, melainkan menyampaikan sesuatu yang benar, bermanfaat, dan dapat dipertanggungjawabkan.
5. Satu Perkataan yang Tidak Dipikirkan Dapat Membawa Petaka
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا، يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ
Artinya:
"Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu perkataan tanpa memikirkan dengan saksama akibatnya, lalu dengan perkataan itu ia terjerumus ke dalam neraka sejauh jarak antara timur dan barat."
(HR. Muslim, dalam riwayat tentang bahaya ucapan)
Hadis ini mengingatkan kita bahwa perkataan bukanlah perkara sepele. Apa yang keluar dari mulut dapat membawa kebaikan, tetapi juga dapat menimbulkan kerusakan yang besar.
Satu kalimat yang diucapkan tanpa pertimbangan dapat menghancurkan kepercayaan. Satu tuduhan tanpa bukti dapat mencederai kehormatan seseorang. Satu cerita yang disebarkan tanpa verifikasi dapat menimbulkan permusuhan di antara orang-orang yang sebelumnya hidup rukun.
Terlebih pada zaman media sosial, sebuah informasi dapat tersebar dalam hitungan detik. Orang dapat meneruskan berita hanya dengan satu sentuhan, tanpa mengetahui siapa sumber awalnya dan apakah isinya benar.
Karena itu, kita harus lebih berhati-hati. Jangan sampai jari kita lebih cepat daripada pikiran, dan jangan sampai keinginan untuk berkomentar mengalahkan kewajiban untuk memeriksa kebenaran.
Rasulullah SAW juga bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya:
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini memberikan pedoman yang sangat sederhana, tetapi mendalam: jika perkataan kita tidak membawa kebaikan, tidak memiliki dasar yang jelas, dan justru berpotensi menimbulkan kerusakan, diam dapat menjadi pilihan yang lebih bijaksana.
Diam bukan berarti takut terhadap kebenaran. Diam juga bukan berarti membiarkan kezaliman. Akan tetapi, diam berarti menahan diri ketika kita belum memiliki pengetahuan dan bukti yang cukup untuk berbicara.
Sebaliknya, ketika ada persoalan yang memang harus diungkap demi kepentingan umum, sampaikanlah dengan bukti, cara yang benar, dan niat yang bertanggung jawab.
6. Namimah: Kebiasaan Mengadu Domba yang Merusak Persaudaraan
Rasulullah SAW bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ
Artinya:
"Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Namimah merupakan perilaku menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain dengan cara yang bertujuan atau berakibat merusak hubungan di antara mereka
Perilaku ini sangat berbahaya karena sering kali berawal dari sesuatu yang tampak sederhana: sebuah cerita, potongan percakapan, kabar yang belum tentu benar, atau informasi yang sengaja disampaikan tanpa konteks yang utuh.
Sedikit demi sedikit, hubungan menjadi renggang. Kepercayaan berubah menjadi kecurigaan. Persaudaraan berganti permusuhan. Bahkan, orang-orang yang sebelumnya saling menghormati dapat terjebak dalam pertengkaran hanya karena perkataan yang disampaikan oleh pihak ketiga.
Yang lebih memprihatinkan, pelaku adu domba terkadang merasa dirinya paling benar. Ia merasa sedang membela seseorang, membuka rahasia, atau menyampaikan sesuatu yang dianggap penting. Padahal, tidak semua hal yang diketahui harus disebarluaskan, dan tidak setiap cerita layak dijadikan konsumsi publik.
Kita perlu membedakan antara mengungkap fakta demi keadilan dan menyebarkan cerita demi merusak kehormatan seseorang.
Mengungkap dugaan pelanggaran dengan bukti dan melalui mekanisme yang tepat merupakan hal yang berbeda dari menyebarkan tuduhan tanpa dasar. Kritik yang bertanggung jawab juga berbeda dari fitnah yang sengaja digunakan untuk mengadu domba.
Jangan sampai atas nama kebenaran, kita justru mengabaikan kejujuran. Jangan sampai atas nama keberanian, kita melupakan adab. Dan jangan sampai atas nama membela seseorang, kita melakukan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agama.
7. Jangan Mencari Sanjungan dengan Menjatuhkan Orang Lain
Ada satu hal yang perlu kita renungkan bersama: mengapa seseorang begitu bersemangat menyebarkan cerita tentang orang lain?
Apakah benar-benar demi menegakkan keadilan? Apakah karena ingin melindungi masyarakat dari kerugian? Ataukah ada kepentingan pribadi, keinginan mendapatkan pujian, mencari popularitas, atau memperoleh keuntungan tertentu?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut hendaknya tidak digunakan untuk menuduh seseorang tanpa bukti, melainkan sebagai bahan introspeksi bagi diri kita masing-masing.
Sebab, niat manusia tidak selalu mudah diketahui. Kita tidak berhak memastikan isi hati orang lain hanya berdasarkan prasangka. Namun, kita tetap memiliki kewajiban untuk menilai perkataan dan tindakan berdasarkan bukti, akhlak, serta akibat yang ditimbulkannya.
Jika seseorang memang melakukan kesalahan, tegurlah dengan cara yang baik. Jika ada dugaan pelanggaran, periksalah dengan benar. Jika ada informasi yang harus disampaikan kepada publik, pastikan informasi tersebut akurat, relevan, dan tidak menyesatkan.
Jangan membangun citra diri dengan cara meruntuhkan kehormatan orang lain.
Jangan merasa hebat hanya karena mampu membuat orang lain menjadi bahan pembicaraan.
Dan jangan merasa menang hanya karena cerita yang kita sebarkan berhasil mendapatkan banyak perhatian.
Sanjungan manusia tidak akan mengubah kebohongan menjadi kebenaran. Popularitas tidak menghapus tanggung jawab. Keuntungan sesaat pun tidak menjamin keselamatan seseorang dari akibat perbuatannya.
Dalam kehidupan ini, setiap orang harus berani mempertanggungjawabkan perkataan dan tindakannya sendiri.
8. Mari Mengoreksi Diri Sebelum Mengoreksi Orang Lain
Saudara-saudaraku seiman, seluruh uraian di atas hendaknya menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kehidupan seorang Muslim harus dibimbing oleh iman, ilmu, dan akhlak.
Kita tidak cukup hanya pandai berbicara tentang agama, tetapi juga harus berusaha mengamalkan nilai-nilai yang diajarkannya.
Kita tidak cukup hanya menuntut orang lain berlaku jujur, tetapi juga harus memeriksa kejujuran diri sendiri.
Kita tidak cukup hanya mengecam fitnah, tetapi juga harus memastikan bahwa kita tidak ikut menyebarkannya.
Sebelum membagikan suatu berita, tanyakan kepada diri sendiri: apakah informasi ini benar? Apakah sumbernya dapat dipercaya? Apakah ada pihak yang dirugikan jika saya menyebarkannya? Apakah saya sedang mencari kebenaran atau sekadar memuaskan hawa nafsu?
Sebelum menuduh seseorang, periksalah bukti. Sebelum menghakimi suatu peristiwa, pahamilah duduk perkaranya. Sebelum menyampaikan cerita, pertimbangkanlah manfaat dan mudaratnya.
Jangan mudah terprovokasi. Jangan mudah menyalahkan. Jangan mudah percaya pada cerita sepihak. Dan jangan menjadikan media sosial sebagai tempat melampiaskan kebencian atau menyebarkan permusuhan.
Jika kita mengaku sebagai orang yang beriman, maka perkataan, sikap, dan tindakan kita semestinya mencerminkan akhlak yang baik. Ilmu harus membimbing ucapan, akal harus mengendalikan emosi, dan hati nurani harus mengingatkan kita agar tidak melampaui batas.
Rasulullah SAW juga mengingatkan tentang buruknya perilaku orang yang gemar mengadu domba melalui hadis:
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِشِرَارِكُمْ؟ الْمَشَّاؤُونَ بِالنَّمِيمَةِ، الْمُفْسِدُونَ بَيْنَ الْأَحِبَّةِ، الْبَاغُونَ لِلْبُرَآءِ الْعَنَتَ
Secara umum, hadis tersebut memberikan peringatan tentang orang-orang yang menyebarkan adu domba, merusak hubungan di antara orang-orang yang saling menyayangi, dan mencari-cari kesalahan orang lain yang tidak bersalah.
Pesan moralnya jelas: jangan menjadi sumber kerusakan di tengah persaudaraan. Jangan menambah api ketika orang lain sedang berusaha meredakan pertengkaran. Jangan menyebarkan kebencian ketika kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki keadaan.
Pada akhirnya, tulisan ini bukanlah sumpah, bukan pula vonis terhadap orang tertentu. Ini adalah peringatan dan ajakan untuk mengoreksi diri. Mari kita periksa kembali apakah selama ini perkataan dan tindakan kita sudah sesuai dengan ajaran Islam atau justru tanpa sadar telah melukai orang lain melalui fitnah, prasangka, dan adu domba.
Jangan menunggu persoalan menjadi besar untuk menyadari bahwa sebuah perkataan dapat membawa akibat yang panjang. Jangan menunggu hubungan persaudaraan hancur untuk memahami pentingnya menjaga lisan.
Sebab, tidak semua yang kita dengar harus kita percaya, tidak semua yang kita ketahui harus kita sebarkan, dan tidak semua yang kita yakini harus kita paksakan kepada orang lain.
Mari menjaga lisan, meluruskan niat, memperkuat tabayyun, dan mengutamakan persaudaraan.
Semoga Allah SWT membimbing kita agar senantiasa berkata benar, bertindak adil, menjauhi fitnah, serta tidak menjadi sebab rusaknya kehormatan dan persaudaraan sesama manusia.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Salam persaudaraan.
KRA. H. Ch. RS Yudonagoro
(Kyai Mbeling)
