Diterima Sinuwun Pakoe Boewono XIV Purboyo, Pangarso dan Sentono Dalem Ponorogo Hadiri Pisowanan Wilujengan, Panjatkan Doa untuk SISKS Pakoe Boewono XIII
PONOROGO, METROWILIS.COM – Suasana khidmat dan penuh penghormatan menyelimuti kegiatan Pisowanan Wilujengan dalam rangka memperingati genap satu tahun surud-dalem Sampean Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sesuhunan (SISKS) Pakoe Boewono XIII, Kamis (22/10/2026). Pata Pangarso dan Sentono dalem Ponorogo yang tergabung dalam Senopati Nalendro hadir dan diterima oleh SISKS Pakoe Boewono XIV Purboyo.
Momentum tersebut menjadi ruang untuk memanjatkan doa, mengenang almarhum raja Sinuwun Pakoe Boewono XIII, sekaligus merawat nilai-nilai luhur tradisi Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Di antara para pangarso dan Sentono Dalem yang hadir, Ketua SENOPATI Narendra Ponorogo, KRA Suwendi Wijoyo Nagoro, S.H., M.Si., menyampaikan rasa syukur karena dapat mengikuti rangkaian kegiatan yang berlangsung di Kagungan-Dalem Plataran Sasana Hadi (Talang Paten) tersebut.
Bagi KRA Suwendi, kehadiran dalam pisowanan bukan sekadar memenuhi undangan atau mengikuti tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada almarhum SISKS Pakoe Boewono XIII serta wujud kepedulian terhadap keberlangsungan adat dan budaya Jawa.
“Alhamdulillah, saya bersyukur bisa mengikuti acara ini. Semoga Kasunanan Surakarta bisa kembali damai, ayem, tentrem, dan segera kondusif,” ungkapnya.
Harapan tersebut disampaikan di tengah keinginan agar Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat senantiasa berada dalam suasana yang harmonis. Baginya, kedamaian dan ketenteraman merupakan hal penting untuk menjaga kelangsungan tradisi serta mempererat persaudaraan di lingkungan keraton.
Memanjatkan Doa, Mengenang Sang Raja
Peringatan satu tahun surud-dalem SISKS Pakoe Boewono XIII juga menjadi kesempatan untuk mengenang perjalanan almarhum semasa memimpin Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Dalam suasana penuh takzim, doa dipanjatkan agar almarhum memperoleh ampunan atas segala dosa dan kekhilafan serta mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa.
“Semoga almarhum SISKS Pakoe Boewono XIII diampuni segala dosanya dan ditempatkan di tempat terindah di sisi-Nya,” tuturnya.
Doa tersebut mencerminkan penghormatan sekaligus rasa kehilangan atas sosok raja yang menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah dan tradisi Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Bagi para pangarsa dan Sentono Dalem, mengenang almarhum tidak hanya dilakukan melalui kegiatan seremonial, tetapi juga dengan menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan, termasuk tata krama, persaudaraan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap ada
Menjaga Tradisi, Merawat Keharmonisan
Menurut KRA Suwendi Wijoyo Nagoro, Pisowanan Wilujengan memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar kegiatan peringatan. Tradisi tersebut menjadi pengingat bahwa ikatan persaudaraan dan semangat kebersamaan perlu terus dijaga, terutama ketika lingkungan keraton membutuhkan suasana yang damai dan harmonis.
Ia berharap seluruh elemen yang memiliki keterikatan dengan keraton dapat mengedepankan sikap saling menghormati, menjaga komunikasi, serta menempatkan kepentingan bersama demi keberlangsungan adat dan budaya Jawa.
Keraton bukan hanya menyimpan jejak sejarah, melainkan juga menjadi salah satu ruang penting bagi pelestarian nilai-nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itu, suasana yang ayem, tentrem, dan kondusif diharapkan dapat menjadi landasan untuk terus merawat warisan tersebut.
Kehadiran Ketua SENOPATI Narendra Ponorogo dalam Pisowanan Wilujengan ini sekaligus menegaskan komitmen untuk menghormati tradisi keraton dan menjaga hubungan persaudaraan antarelemen yang memiliki ikatan budaya dengan Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Pada akhirnya, doa yang dipanjatkan dalam momentum satu tahun surud-dalem SISKS Pakoe Boewono XIII tidak hanya menjadi ungkapan penghormatan kepada almarhum, tetapi juga membawa harapan bagi masa depan keraton: agar kedamaian kembali terjaga, persaudaraan semakin erat, dan warisan luhur budaya Jawa tetap lestari.
(Metrowilis.com)

