Lely Kembali Pimpin FPTI Ponorogo, Bidik Wall Climbing Baru di Stadion pada 2027
![]() |
| Relelyanda Solekha Wijayanti, S.IP, atau yang akrab disapa Lely, kembali dipercaya memimpin FPTI Ponorogo pada periode ke- 2 yaitu periode 2026–2030. |
PONOROGO | METROWILIS.COM – Regenerasi atlet, peningkatan prestasi, hingga pembenahan fasilitas menjadi pekerjaan rumah Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kabupaten Ponorogo untuk empat tahun ke depan. Di tengah torehan medali yang terus mengalir, kebutuhan sarana latihan berstandar kejuaraan kini menjadi salah satu agenda penting kepengurusan baru.
Relelyanda Solekha Wijayanti, S.IP, atau yang akrab disapa Lely, kembali dipercaya memimpin FPTI Ponorogo periode 2026–2030. Anggota DPRD Ponorogo dari Fraksi PDI Perjuangan itu terpilih secara aklamasi dalam Musyawarah Kabupaten (Muskab) FPTI Ponorogo yang digelar di Aula Kantor PDI Perjuangan, Sabtu (3/10/2026).
Terpilihnya Lely menandai periode kedua kepemimpinannya di cabang olahraga panjat tebing. Kepercayaan tersebut sekaligus menjadi modal untuk melanjutkan pembinaan atlet yang selama ini telah mengharumkan nama Kabupaten Ponorogo di berbagai kejuaraan.
Muskab dihadiri jajaran pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), atlet, serta para pembina panjat tebing. Forum tersebut menjadi momentum evaluasi sekaligus merumuskan arah pengembangan olahraga panjat tebing Ponorogo hingga 2030.
Medali Terus Mengalir, Fasilitas Masih Menjadi Tantangan
Di bawah kepemimpinan Lely pada periode sebelumnya, atlet panjat tebing Ponorogo menunjukkan konsistensi prestasi. Sumbangan medali emas datang dari berbagai ajang, mulai Kejuaraan Provinsi (Kejurprov), Pekan Olahraga Provinsi (Porprov), hingga kompetisi internasional di Singapura dan Tiongkok.
Capaian tersebut menjadi gambaran potensi atlet lokal yang mampu bersaing di berbagai level kompetisi.
"Alhamdulillah, setiap tahunnya cabang olahraga panjat tebing selalu menyumbangkan medali untuk Kabupaten Ponorogo. Bahkan di ajang internasional seperti di Singapura dan Cina, atlet kita berhasil meraih medali emas," ujar Lely.
Namun, di balik prestasi tersebut, masih terdapat persoalan mendasar yang membutuhkan perhatian. Salah satunya adalah kondisi fasilitas wall climbing yang selama ini digunakan untuk latihan.
Menurut Lely, sarana yang tersedia sudah kurang layak, belum sesuai spesifikasi standar kejuaraan, serta membutuhkan peremajaan. Selain itu, lokasi fasilitas yang berada di kawasan dinas lain dinilai belum sepenuhnya mendukung efektivitas pembinaan atlet.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri ketika atlet harus mempersiapkan diri menghadapi kompetisi dengan tingkat persaingan yang semakin ketat.
Stadion Ponorogo Dibidik Jadi Pusat Pembinaan Baru
Memasuki periode kepemimpinan 2026–2030, Lely membawa agenda peningkatan kualitas sarana dan prasarana sebagai salah satu prioritas.
Salah satu rencana strategis yang diusung adalah mendorong pembangunan fasilitas wall climbing baru di kawasan Stadion Ponorogo. Lokasi tersebut diharapkan dapat mengintegrasikan sarana panjat tebing dengan fasilitas olahraga lainnya, sekaligus mendukung pembinaan atlet secara lebih terarah.
Lely menyebut, rencana pembangunan tersebut akan diperjuangkan melalui koordinasi dan dorongan kepada Pemerintah Kabupaten Ponorogo agar dapat direalisasikan pada tahun anggaran 2027.
"Harapan saya ke depan adalah bisa memfasilitasi atlet-atlet kita dengan baik. Kita sering kalah bersaing dengan daerah lain karena fasilitas mereka lebih lengkap. Rencananya, kita mendorong Pemkab Ponorogo untuk merealisasikan pembangunan wall climbing baru di area stadion pada tahun anggaran 2027," ungkapnya.
Rencana itu menjadi bagian dari upaya menjawab kebutuhan atlet, bukan sekadar menghadirkan bangunan fisik. Fasilitas yang memadai diharapkan mampu menunjang kualitas latihan, meningkatkan kesiapan bertanding, serta membuka ruang pembinaan atlet muda secara berkelanjutan.
Menatap Target Prestasi 2030
Ke depan, tantangan FPTI Ponorogo bukan hanya mempertahankan tradisi medali, melainkan meningkatkan daya saing atlet di tingkat provinsi, nasional, hingga internasional.
Ketersediaan fasilitas yang sesuai standar, pembinaan berjenjang, serta dukungan berbagai pihak akan menjadi faktor penting dalam mewujudkan target tersebut.
Terpilihnya kembali Lely secara aklamasi memberikan kesinambungan kepemimpinan bagi FPTI Ponorogo. Namun, realisasi program dan dukungan sarana tetap menjadi pekerjaan bersama antara pengurus, KONI, pemerintah daerah, pembina, dan atlet.
Jika rencana pembangunan wall climbing baru di kawasan stadion dapat direalisasikan pada 2027, Ponorogo berpeluang memiliki ruang pembinaan panjat tebing yang lebih representatif.
Dari fasilitas yang lebih memadai itulah, harapan untuk melahirkan atlet-atlet berprestasi berikutnya mulai disiapkan. Bukan hanya untuk menjaga catatan medali hari ini, tetapi juga memastikan panjat tebing Ponorogo tetap kompetitif hingga akhir periode kepengurusan 2030.(AZ)
