BREAKING NEWS

Alhamdulillahi Robbil A'lamin, Segala Pujian Hakekatnya Milik Allah


Oleh : Ustadz Agus Zahid

Bahwa hakikat segala pujian kembali kepada Allah. Dalam Islam, konsep ini sangat kuat, sebagaimana pembukaan Surah Al-Fatihah:

"Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin"

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

1. Hakikat Pujian Milik Allah

Para ulama menjelaskan bahwa Allah adalah sumber segala kesempurnaan. Ketika seseorang dipuji karena ilmu, akhlak, kekuatan, kekayaan, atau amal salehnya, sesungguhnya semua itu adalah karunia Allah. Karena itu, seorang mukmin tidak sepatutnya menjadi sombong ketika menerima pujian.

Allah berfirman:

"Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah datangnya." (QS. An-Nahl: 53)

Maka sikap yang tepat ketika dipuji adalah mengembalikan pujian tersebut kepada Allah dengan mengucapkan:

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah.

2. Allah Memuji Diri-Nya dan Hamba-Hamba Pilihan-Nya

Di dalam Al-Qur'an terdapat banyak ayat yang menunjukkan Allah memuji diri-Nya sendiri, seperti pada pembukaan beberapa surah yang diawali dengan "Alhamdulillah".

Selain itu, Allah juga memuji para nabi, rasul, dan hamba-hamba saleh. Misalnya Allah memuji Nabi Muhammad ï·º:

"Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. Al-Qalam: 4)

Allah juga memuji Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Nabi Musa, para sahabat, dan orang-orang beriman dalam berbagai ayat.

Hal ini menunjukkan bahwa pujian yang benar dan proporsional bukanlah sesuatu yang tercela.

3. Pujian Antara Sesama Manusia

Dalam tradisi Islam, para ulama sering memuji guru, ulama, atau tokoh yang berjasa. Misalnya penyusun kitab Jawahirul Bukhari, yaitu Mustofa bin Muhammad I'maroh, memberikan sanjungan kepada Imam Al-Bukhari atas keilmuan dan jasanya dalam menjaga hadis Nabi.

Pujian seperti ini diperbolehkan selama:

Tidak berlebihan.

Tidak mengandung kebohongan.

Tidak menimbulkan kesombongan.

Tidak mengangkat seseorang sampai derajat yang tidak semestinya.

4. Nabi Muhammad ï·º dan Pujian

Rasulullah ï·º tidak melarang semua bentuk pujian. Beliau menerima pujian yang benar dan sesuai kenyataan.

Namun beliau juga mengingatkan agar tidak berlebihan:

"Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku sebagaimana orang Nasrani berlebih-lebihan memuji Isa putra Maryam." (HR. Bukhari)

Hadis ini bukan larangan memuji Nabi, melainkan larangan mengangkat beliau melebihi kedudukan yang Allah berikan.

Dalam banyak riwayat, para sahabat memuji Nabi dengan syair dan ungkapan cinta. Di antaranya kisah Ka'b bin Zuhair yang membacakan qasidah di hadapan Rasulullah ï·º. Setelah mendengar syair tersebut, Nabi memberikan hadiah berupa burdah (jubah atau mantel) beliau kepada Ka'b. Dari peristiwa inilah kemudian dikenal qasidah "Banat Su'ad", sedangkan istilah "Qasidah Burdah" yang terkenal kemudian merupakan karya Imam Al-Bushiri.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa pujian yang jujur, penuh penghormatan, dan tidak melampaui batas dapat diterima dalam Islam.

5. Sikap Seorang Mukmin Ketika Dipuji

Para ulama menganjurkan agar seseorang:

Bersyukur kepada Allah.

Tidak merasa dirinya hebat.

Mengingat bahwa semua kelebihan berasal dari Allah.

Berdoa sebagaimana diajarkan para salaf:

"Allahumma la tu'akhidzni bima yaqulun, waghfir li ma la ya'lamun, waj'alni khairan mimma yazhunnun."

Artinya:

"Ya Allah, janganlah Engkau menghukumku karena apa yang mereka katakan, ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui, dan jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka sangkakan."

Kesimpulan

Pujian pada hakikatnya berasal dan kembali kepada Allah, karena Allah adalah sumber seluruh kesempurnaan. Manusia boleh dipuji selama pujian itu benar, tidak berlebihan, dan tidak menimbulkan kesombongan. Nabi Muhammad ï·º sendiri menerima pujian yang benar, namun melarang sikap berlebihan yang dapat mengarah kepada pengkultusan. Karena itu, ketika dipuji, sikap terbaik adalah bersyukur dan mengembalikan segala pujian kepada Allah dengan mengucapkan: "Alhamdulillah, segala puji milik Allah."

Kemudian diakhir pembahasan, pujian mahluk terhadap koliqnya,pujian manusia dan mahluk lainya kepada Allah, dengan ucapan Alhamdulillah,Subhanallah, Laailaaha illallah dan dengan kalimat kalimat toyyibah lainya. Karena memang hakekat pujian adalah milik Allah SWT. (*) 

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar