BREAKING NEWS

Disbudparpora Ponorogo Tegaskan Penilaian Festival Reog Nasional 2026 Profesional dan Berintegritas

 


PONOROGO || Metrowilis. Com - Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Ponorogo Judha Slamet Sarwo Edhi, S.Sos., M.Si menegaskan bahwa proses penilaian dalam Festival Reog Nasional (FRN) Grebeg Suro 2026 telah dilaksanakan secara profesional, objektif, dan dilakukan oleh para ahli yang memiliki kompetensi di bidang seni pertunjukan.

Hal tersebut disampaikan Judha saat dikonfirmasi awak media Metrowilis.com di ruang kerjanya, Selasa (23/6/2026).

Menurutnya, dewan juri yang bertugas merupakan akademisi dan praktisi seni berpengalaman dari berbagai perguruan tinggi ternama di Indonesia, di antaranya berasal dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW), serta akademisi dan praktisi seni dari Ponorogo.

“Penilaian dilakukan oleh orang-orang yang memang ahli di bidangnya. Mereka adalah dosen, seniman senior, pakar karawitan, tari, dan musik yang telah berulang kali menjadi dewan juri maupun pengamat dalam berbagai festival seni. Mekanisme penilaian juga sangat detail, mulai dari pemberian skor hingga proses rekapitulasi nilai, sehingga menjamin akuntabilitas dan integritas yang tinggi,” ujar Judha.

Ia menjelaskan, salah satu juri dari ISI Surakarta, Eko Purnomo Cahyono (Eko PC), merupakan koreografer sekaligus komposer yang terlibat dalam garapan pertunjukan Reog Ponorogo saat tampil di Istana Negara pada peringatan Hari Ulang Tahun ke-77 Republik Indonesia.

“Beliau memiliki kapasitas yang sangat memadai dalam menilai pertunjukan. Begitu pula juri lainnya yang merupakan pakar tari, musik, dan seni pertunjukan. Jadi tidak perlu diragukan lagi kompetensinya,” katanya.

Tidak Ada Intervensi dalam Penilaian

Menanggapi adanya isu intervensi terhadap hasil penilaian, Judha menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada pihak yang memengaruhi maupun mengintervensi dewan juri.
“Festival Reog Nasional adalah kebanggaan Ponorogo, kebanggaan Jawa Timur, bahkan kebanggaan nasional. Karena itu sangat tidak mungkin ada intervensi yang mencederai marwah pelestarian Reog Ponorogo. Panitia maupun dewan juri juga tidak merasa ada intervensi apa pun,” tegasnya.

Ia mengajak seluruh pihak untuk menghormati hasil festival dan menjadikan ajang tersebut sebagai sarana pembelajaran bagi seluruh peserta.

“Kalau hari ini belum mendapatkan hasil terbaik, mari belajar kepada yang lebih baik. Festival ini bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi bagian dari proses transmisi dan pewarisan budaya Reog Ponorogo kepada generasi berikutnya,” imbuhnya.

Grebeg Suro Masuk Kalender Karisma Event Nusantara

Judha juga mengingatkan bahwa Grebeg Suro dan Festival Reog Nasional telah menjadi bagian dari Kharisma Event Nusantara (KEN) sejak tahun 2022 dan bahkan dua kali masuk dalam jajaran Top 10 Event Terbaik Nasional.

Menurutnya, prestasi tersebut harus dijaga bersama agar Festival Reog Nasional tetap menjadi agenda budaya unggulan Indonesia.
“Kami berharap seluruh masyarakat Ponorogo bangga dan mendukung event ini. Dengan kualitas yang terus terjaga, mudah-mudahan tahun depan kembali masuk Top 10 Event Terbaik Indonesia,” ujarnya.

Tantangan Keterbatasan Anggaran
Lebih lanjut, Judha mengakui bahwa penyelenggaraan Grebeg Suro 2026 menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait keterbatasan anggaran baik di tingkat daerah maupun sekolah-sekolah yang mengirimkan peserta.

“Kami sempat khawatir jumlah peserta menurun karena banyak daerah dan sekolah menghadapi keterbatasan anggaran. Namun Alhamdulillah festival tetap berjalan dengan baik,” katanya.

Pada Festival Reog Nasional tahun ini, sebanyak 32 grup tampil selama empat hari penyelenggaraan dengan rata-rata delapan peserta setiap malam.
Menurut Judha, jumlah tersebut dinilai ideal karena seluruh rangkaian pertunjukan dapat selesai sekitar pukul 23.30 WIB, berbeda dengan tahun sebelumnya yang mencapai 42 peserta sehingga kegiatan berlangsung hingga dini hari.

Ke depan, Disbudparpora berharap jumlah peserta tetap terjaga melalui kolaborasi antara sekolah, kecamatan, pemerintah daerah, maupun pihak swasta.
“Kami berharap ada sinergi antara sekolah dan kecamatan untuk Reog Remaja, serta dukungan pemerintah daerah maupun dunia usaha bagi peserta dari luar daerah. Dengan begitu jumlah peserta tidak menurun dan kualitas festival tetap terjaga,” jelasnya.

Regenerasi Seniman Reog Berjalan Baik

Judha menilai salah satu keberhasilan terbesar Festival Reog Nasional tahun ini adalah tingginya keterlibatan generasi muda, baik sebagai penari, penata musik, penata tari, maupun pendukung grup peserta.

“Yang membanggakan, hampir seluruh pelaku yang terlibat adalah anak-anak muda. Ini menunjukkan proses regenerasi dan pewarisan Reog Ponorogo berjalan dengan baik. Inilah mimpi kita bersama,” katanya.

Meski demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah kekurangan yang akan menjadi bahan evaluasi untuk penyelenggaraan tahun berikutnya.
“Kalau ada kekurangan tentu itu hal yang wajar. Semua akan kami evaluasi agar pelaksanaan Festival Reog Nasional ke depan semakin baik dan berkualitas,” pungkasnya.

Kembalikan Festival Sebagai Pesta Rakyat


Sementara itu, warga yang mengaku berbicara dalam kapasitas pribadi sebagai pengamat nonteknis menyampaikan pandangannya terkait dinamika yang muncul selama festival berlangsung.

Menurutnya, Festival Reog Nasional sejatinya merupakan pesta rakyat dan ajang apresiasi terhadap seni budaya Reog Ponorogo.
“Kalau melihat festival di daerah lain, kelompok yang tampil biasanya mendapat apresiasi dari pemerintah, jadi tanpa ada penilaian lomba, sehingga tanpa menimbulkan kegaduhan. Artinya kalau Festifal, ya tampil aja karena pesta rakyat tidak usah ada penilaian, kalau memang tidak siap kalah dan hanya ingin gaduh. Namun Demikian setelah saya terlibat langsung, saya tetap bangga karena acara ini sukses terselenggara. Hanya saja saya merasa kecewa karena muncul saling curiga dan perbedaan pendapat di antara sebagian pihak,” ujarnya.

Meski demikian, Ia tetap mengapresiasi suksesnya penyelenggaraan Festival Reog Nasional Grebeg Suro 2026 yang dinilai mampu menghadirkan semangat pelestarian budaya serta memperkuat kecintaan masyarakat terhadap kesenian Reog Ponorogo.

Warga lainya berpendapat jika Festifal hanya tampil tanpa adanya unsur penilaian dan kejuaraan tentu harus melalui kajian dan pembahasan lebih lanjut. Sebab selama ini kendatipun tidak mengurangi unsur nguri nguri budaya Ponorogo, tetapi Festifal Reog di Ponorogo selalu identik dengan perlombaan dan kejuaraan, . (AZ)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar