Sakral Labuhan Adang Tahun Dal di Pantai Parangkusumo, Ketika Pakubuwono XIV Purboyo Melanjutkan Amanat Leluhur Untuk Masa Depan
SURAKARTA | Metrowilis.com - Di tengah arus modernisasi yang kian deras, Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali menegaskan jati dirinya sebagai penjaga warisan budaya Jawa. Pada Minggu Legi, 19 April 2026, di Pantai Parangkusumo, Jogjakarta.
Sebuah prosesi sakral digelar—bukan sekadar ritual masa lalu, tetapi juga pesan kuat untuk masa depan: Upacara Adat Labuhan Ubo-rampé Adang Tahun Dal 1959 atau yang kini tahun 2026 Masehi atau 1447 Hijriyah.
Tradisi yang hanya hadir setiap delapan tahun sekali dalam penanggalan Jawa ini terasa seperti jembatan waktu. Ia menghubungkan generasi terdahulu dengan generasi yang akan datang, membawa nilai-nilai yang tak lekang oleh zaman. Dalam bayangan ke depan, ritual seperti ini diperkirakan akan semakin menjadi penanda identitas budaya di tengah dunia yang semakin global.
Prosesi dimulai dari wilujengan di dalam Karaton—ruang sakral yang dipenuhi doa dan harapan. Nama Pakubuwono XIV Purboyo menjadi pusat perhatian, sebagai sosok yang melanjutkan amanat leluhur. Ia tidak hanya memimpin secara simbolis, tetapi juga menjadi figur penting dalam menjaga kesinambungan tradisi yang diwariskan dari Pakubuwono XIII.
Dari Karaton, iring-iringan abdi dalem bergerak menuju Pantai Parangkusumo—sebuah tempat yang sejak lama dipercaya sebagai titik pertemuan antara dunia manusia dan kekuatan alam. Di masa mendatang, lokasi ini diprediksi akan semakin dikenal tidak hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai ruang spiritual yang hidup.
Di tepi laut selatan, ubo-rampé berupa perlengkapan adang bethak dilarung ke dalam ombak. Dalam konteks masa depan, simbol ini bisa dibaca lebih luas: sebagai bentuk kesadaran ekologis dan penghormatan terhadap alam yang semakin relevan di era krisis lingkungan.
Prosesi dipimpin oleh Adipati Dipokusumo, diiringi doa yang dipanjatkan oleh Ana Muji Rahayuningtyas. Doa-doa itu tidak hanya untuk keselamatan Karaton, tetapi juga untuk harmoni masyarakat yang lebih luas—sebuah nilai yang akan terus dibutuhkan di masa depan.
Menariknya, keterlibatan organisasi seperti Persaudaraan Setia Hati Terate, IKSPI Kera Sakti, Pagar Nusa, dan PSHW-TM menunjukkan bagaimana tradisi dapat beradaptasi dengan zaman. Di masa depan, kolaborasi lintas komunitas seperti ini diprediksi akan menjadi kunci pelestarian budaya.
Juru bicara Karaton, KPA Singonagoro, menegaskan bahwa upacara ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk komitmen jangka panjang. Pernyataan ini seakan menjadi isyarat bahwa Karaton telah memposisikan diri bukan hanya sebagai penjaga masa lalu, tetapi juga arsitek masa depan budaya Jawa.
Ke depan, ritual Labuhan Ubo-rampé Adang mungkin akan mengalami transformasi—didokumentasikan secara digital, disaksikan lebih luas melalui teknologi, bahkan menjadi bagian dari diplomasi budaya Indonesia di kancah global. Namun esensinya akan tetap sama: menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas.
Di tengah dunia yang terus berubah, Karaton Surakarta menunjukkan bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang usang. Ia adalah fondasi yang, jika dijaga dengan bijak, justru akan menjadi kompas menuju masa depan.(AZ)
