Sinuhun Pakubuwono XIV Purboyo Serahkan Zakat Fitrah, Tradisi Keraton yang Terus Hidup dari Masa ke Masa
Surakarta | Metrowilis.com- Pakubuwono XIV kembali menjalankan salah satu tradisi penting Keraton pada bulan suci Ramadan. Pada Minggu (15/3/2026), Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) menyerahkan zakat fitrah melalui para pengageng Keraton dalam prosesi adat yang berlangsung khidmat di Masjid Agung Surakarta.
Prosesi tersebut menjadi bagian dari rangkaian adat tahunan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang telah berlangsung secara turun-temurun sejak masa para raja terdahulu. Dalam suasana Ramadan yang penuh makna, penyerahan zakat bukan sekadar kewajiban agama, tetapi juga simbol kepedulian sosial Keraton kepada masyarakat.
Di halaman Masjid Agung Surakarta, iring-iringan para Pangageng Bebadan beserta staf, para Gusti yang menjabat di bebadan, para Santana Dalem, para pangarso wilayah, hingga para Abdi Dalem tampak mengikuti prosesi dengan penuh tata krama. Nuansa tradisi Jawa terasa kental, memadukan nilai spiritual Islam dengan adat budaya Keraton yang telah berusia ratusan tahun.
KGPH Dipokusumo atau yang akrab disapa Gusti Dipo menuturkan bahwa tradisi penyerahan zakat fitrah oleh raja Kasunanan Surakarta merupakan warisan yang terus dijaga keberlangsungannya.
KGPH Dipokusumo menjelaskan bahwa prosesi zakat yang diserahkan melalui Masjid Agung Surakarta merupakan bagian dari rangkaian adat Keraton yang tidak pernah terputus dari generasi ke generasi.
“Tradisi ini sudah berlangsung sejak masa raja-raja terdahulu. Keraton terus menjaga agar adat tersebut tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.
Lebih dari sekadar kewajiban menjelang Hari Raya Idulfitri, zakat fitrah yang diserahkan Sinuhun juga dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur Keraton Kasunanan Surakarta kepada Allah SWT atas berbagai nikmat yang telah diberikan. Tradisi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa peran Keraton tidak hanya sebagai penjaga budaya, tetapi juga sebagai simbol kepedulian sosial bagi masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Gusti Dipo juga berpesan kepada generasi muda agar tidak melupakan akar budaya Jawa yang diwariskan para leluhur.
Menurutnya, keberadaan Keraton bukan hanya sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga sebagai pusat nilai, tradisi, dan kearifan lokal yang perlu terus dijaga.(AZ)
“Generasi muda harus ikut menjaga adat dan budaya Jawa. Tradisi yang diwariskan Keraton adalah bagian dari identitas bangsa yang patut dilestarikan,” pesannya.
Di tengah perubahan zaman, tradisi penyerahan zakat fitrah oleh Sinuhun menjadi bukti bahwa nilai-nilai budaya dan spiritual masih hidup dan terpelihara di lingkungan Keraton. Ramadan pun kembali menjadi momentum yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan melalui tradisi yang sarat makna.



