Antusias Calon Abdi Dalem Ikuti Diklat Tata Krama Keraton Surakarta
Surakarta | Metrowilis.com- Suasana Dalem Keraton Surakarta Hadiningrat pada Senin (9/3/2026) tampak berbeda dari biasanya. Sejumlah pria mengenakan busana tradisional duduk rapi, menyimak dengan penuh perhatian setiap penjelasan yang disampaikan. Mereka adalah para calon Abdi Dalem yang datang dari berbagai daerah, seperti Ponorogo, Trenggalek, dan Ngawi, yang tengah mengikuti Diklat Tata Krama dan Adat Keraton Surakarta Hadiningrat.
Sebagian dari mereka sudah menerima kekancingan atau pengukuhan sebagai Abdi Dalem, sementara sebagian lainnya masih berstatus calon. Meski begitu, semangat yang terpancar dari wajah para peserta terlihat sama: keinginan untuk memahami lebih dalam tradisi dan tata krama yang hidup di lingkungan Keraton Surakarta.
Juru bicara Sinuwun PB XIV, KPA Singonegoro, menjelaskan bahwa kegiatan diklat ini bertujuan membekali para calon Abdi Dalem dengan pemahaman mengenai adat istiadat keraton serta etika dalam berinteraksi.
“Ini penting agar nantinya setelah menjadi Abdi Dalem mereka bisa menyesuaikan diri dengan adat istiadat keraton, baik terkait tata krama, aturan di lingkungan keraton, maupun tata busana yang berlaku,” jelasnya.
Menurutnya, para peserta merupakan gelombang awal calon Abdi Dalem dari beberapa daerah di luar Surakarta.
“Peserta terdiri dari calon Abdi Dalem dari Ponorogo, Trenggalek, dan Ngawi. Ini sebagai permulaan,” tambah Kanjeng Samsul, sapaan akrab KPA Singonegoro.
Melalui kegiatan ini, pihak keraton berharap para calon Abdi Dalem memiliki bekal pengetahuan sebelum resmi menerima kekancingan dari Sinuwun PB XIV. Dengan demikian, mereka tidak hanya mengabdi secara simbolik, tetapi juga memahami nilai, tata krama, serta tradisi yang telah diwariskan turun-temurun di Keraton Surakarta Hadiningrat.
Dalam sesi materi, Wakil Pengageng Sasono Wilopo KRM Pustoko memberikan paparan tentang berbagai aspek kehidupan keraton. Mulai dari pengenalan bangunan dan simbol-simbol keraton hingga kebiasaan yang dijalankan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan keraton.
Ia menekankan bahwa Keraton Surakarta bukan sekadar bangunan bersejarah, tetapi juga tempat yang sarat dengan nilai spiritual dan tradisi.
“Keraton ini tempat yang penuh berkah. Setiap akan melakukan sesuatu biasanya didahului dengan doa agar membawa keberkahan. Bahkan untuk hal sederhana seperti memperbaiki genteng bocor pun ada doa sebelumnya, apalagi untuk hal besar seperti pembangunan atau kegiatan penting lainnya,” terang Raden Mas (RM) Restu.
Bagi para peserta, diklat ini menjadi pengalaman berharga. Selain belajar tentang aturan dan tata krama, mereka juga diajak memahami filosofi hidup yang melekat dalam tradisi keraton—bahwa pengabdian bukan hanya soal tugas, tetapi juga tentang menjaga nilai, etika, dan warisan budaya.
Perlu diketahui, usai mengikuti diklat mereka mendapatkan kekancingan secara resmi dari PB XIV menjadi Abdi dalem Kasunanan Keraton Surakarta Hadiningrat(AZ)


