Sinergi Menjaga Hutan Dimulai dari Kesadaran: Perhutani dan Polsek Jambon Perkuat Kolaborasi di Ponorogo Barat
PONOROGO || Metrowilis.com- Menjaga hutan bukan lagi sekadar tugas Perhutani atau aparat penegak hukum. Di tengah ancaman kebakaran hutan, penebangan liar, hingga perambahan kawasan yang semakin kompleks, keterlibatan masyarakat menjadi kunci utama menjaga kelestarian hutan untuk masa depan.
Berangkat dari semangat tersebut, Perhutani BKPH Ponorogo Barat KPH Lawu Ds bersama Polsek Jambon terus memperkuat kolaborasi dalam pengamanan kawasan hutan. Namun, langkah yang dibangun tidak hanya berorientasi pada penegakan hukum, melainkan juga mengedepankan edukasi dan pembinaan kepada masyarakat sebagai benteng pertama pelestarian lingkungan.
Asper BKPH Ponorogo Barat, Jhevi Nurvitria, menegaskan bahwa membangun kesadaran masyarakat merupakan investasi jangka panjang dalam menjaga kelestarian hutan.
"Hutan bukan hanya aset negara, tetapi juga penyangga kehidupan masyarakat. Karena itu kami terus berkomitmen memberikan edukasi secara berkelanjutan agar masyarakat memahami pentingnya menjaga kelestarian hutan. Pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan penindakan ketika kerusakan sudah terjadi," ujar Jhevi, Rabu (15/7).
Menurutnya, masyarakat yang memahami fungsi ekologis hutan akan memiliki kepedulian lebih tinggi terhadap lingkungan. Kesadaran tersebut diharapkan mendorong warga untuk aktif melaporkan apabila menemukan aktivitas yang berpotensi merusak kawasan hutan, mulai dari penebangan liar, perambahan, hingga potensi kebakaran.
Kolaborasi dengan Polsek Jambon menjadi bagian penting dalam menciptakan rasa aman di kawasan hutan. Kehadiran aparat kepolisian tidak hanya memperkuat pengawasan, tetapi juga memberikan efek pencegahan terhadap berbagai tindak pidana kehutanan.
Sinergi itu diwujudkan melalui patroli bersama, koordinasi lintas sektor, hingga sosialisasi kepada masyarakat. Upaya tersebut semakin penting menjelang puncak musim kemarau, ketika risiko kebakaran hutan dan lahan meningkat signifikan.
Bagi Perhutani, ancaman kebakaran bukan hanya soal hilangnya tegakan pohon. Dampaknya dapat meluas pada rusaknya ekosistem, berkurangnya sumber mata air, terganggunya kesehatan masyarakat akibat asap, hingga munculnya kerugian ekonomi yang tidak sedikit.
Karena itu, Perhutani terus mendorong keterlibatan seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah desa, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), tokoh masyarakat, hingga kalangan pemuda agar memiliki kepedulian yang sama terhadap kelestarian hutan.
"Kami berharap masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat hutan, tetapi juga menjadi mitra aktif dalam menjaga dan melestarikannya. Dengan kebersamaan, ancaman terhadap kawasan hutan dapat diminimalkan dan fungsi hutan sebagai penyangga kehidupan dapat terus terjaga bagi generasi mendatang," tegas Jhevi.
Ke depan, Perhutani BKPH Ponorogo Barat menilai keberhasilan pengelolaan hutan tidak semata diukur dari menurunnya angka pelanggaran, tetapi juga meningkatnya kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Kolaborasi yang terus diperkuat bersama Polsek Jambon diharapkan menjadi model perlindungan hutan berbasis kemitraan. Sebab, hutan yang tetap lestari hari ini bukan hanya menjaga keseimbangan alam, tetapi juga menjadi warisan berharga bagi generasi yang akan datang.(Red)
