Sedekah Bumi Talun, Menjaga Jejak Leluhur di Tengah Arus Modernisasi
PONOROGO, Metrowilis.com – Pagi baru saja menyapa lereng Kecamatan Ngebel, Kamis (9/7/2026). Udara sejuk Desa Talun masih menyisakan embun ketika satu per satu warga mulai berdatangan. Mengenakan pakaian rapi, mereka melangkah menuju makam para leluhur. Tidak ada gegap gempita, hanya ketenangan dan rasa hormat yang mengalir dalam setiap doa.
Hari itu, masyarakat Desa Talun kembali menggelar tradisi Bersih Desa Tahun 2026 dengan mengusung tema “Sedekah Bumi dan Pelestarian Adat dalam Rangka Bersih Desa Tahun 2026”. Sebuah tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun dan tetap bertahan di tengah derasnya arus modernisasi.
Prosesi diawali dengan ziarah ke makam para leluhur yang diikuti Kepala Desa Talun, Woroto, bersama perangkat desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, dan warga. Ziarah menjadi simbol penghormatan kepada para pendahulu yang telah meletakkan fondasi kehidupan sosial dan budaya masyarakat Desa Talun.
Dari kompleks pemakaman, suasana khidmat berlanjut melalui pembacaan Surah Yasin dan tahlil. Doa-doa dipanjatkan, bukan hanya untuk para leluhur, tetapi juga untuk keselamatan, keberkahan, dan kemakmuran seluruh warga desa.
Bersih Desa di Talun tidak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan. Tradisi sedekah bumi yang menjadi inti kegiatan merupakan ungkapan syukur masyarakat atas hasil pertanian dan rezeki yang diperoleh sepanjang tahun. Di balik prosesi tersebut, tersimpan nilai kebersamaan, gotong royong, dan solidaritas sosial yang masih terpelihara dengan kuat.
Warga dari berbagai kalangan terlibat dalam setiap rangkaian kegiatan. Mereka hadir, bekerja bersama, dan saling mendukung demi menyukseskan tradisi yang telah menjadi bagian dari identitas desa.
Menjelang malam, kegiatan mencapai puncaknya melalui Tirakatan Purwoayu Mardi Utomo (PAMU) di Pendopo Balai Desa Talun. Dalam suasana yang penuh kekhidmatan, doa bersama dipanjatkan agar desa senantiasa diberi ketenteraman, kesejahteraan, dan dijauhkan dari berbagai musibah.
Kepala Desa Talun, Woroto, didampingi Sekretaris Desa KRT Heriyanto, mengatakan tradisi Bersih Desa mengandung nilai spiritual, sosial, dan budaya yang masih relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.
“Alhamdulillah, Bersih Desa tahun ini dapat terlaksana dengan lancar sesuai harapan bersama. Tradisi ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi bentuk rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus ikhtiar menjaga adat istiadat dan mempererat persaudaraan antarwarga,” ujar Woroto.
Menurutnya, pelestarian adat istiadat bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah desa, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda yang kelak akan melanjutkan warisan budaya tersebut.
Ia berharap melalui pelaksanaan Bersih Desa, seluruh doa dan harapan masyarakat dapat dikabulkan sehingga Desa Talun tetap menjadi desa yang aman, tenteram, rukun, dan terus berkembang tanpa meninggalkan akar budayanya.
Di tengah perubahan zaman, Bersih Desa Talun hadir bukan sekadar sebagai perayaan tradisi. Ia menjadi ruang belajar tentang arti kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, serta kepedulian terhadap warisan budaya lokal.
Bagi masyarakat Desa Talun, menjaga adat istiadat bukan hanya mempertahankan sebuah tradisi, melainkan merawat jati diri agar tetap hidup dan terus diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian dari kekayaan budaya Kabupaten Ponorogo. (Red)

