Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Benteng Penyelamat Hutan Gunung Wawar dari Ancaman Kebakaran
PONOROGO | Metrowilis.com – Kepulan asap yang membumbung dari lereng Gunung Wawar, tepatnya di Petak 23 RPH Watubonang, BKPH Ponorogo Barat, menjadi pengingat bahwa musim kemarau selalu membawa ancaman serius bagi kelestarian hutan. Di tengah kondisi cuaca yang kering dan embusan angin yang mempercepat rambatan api, berbagai elemen bergerak tanpa menunggu komando panjang.
Petugas Perum Perhutani KPH Ponorogo, personel TNI, Polri, BPBD Kabupaten Ponorogo, pemerintah daerah, relawan, hingga masyarakat sekitar bahu-membahu menuju lokasi kebakaran. Fokus mereka satu, menghentikan laju api sebelum meluas dan menimbulkan kerusakan yang lebih besar terhadap kawasan hutan.
Bagi Perhutani, penanganan kebakaran hutan bukan sekadar memadamkan api. Lebih dari itu, menjaga hutan berarti menjaga sumber kehidupan, keseimbangan lingkungan, serta keberlangsungan ekosistem yang menjadi penopang kehidupan masyarakat.
Asper BKPH Ponorogo Barat, Jhevi Nurvitria, mengatakan begitu menerima laporan adanya kebakaran, pihaknya langsung melakukan koordinasi dengan seluruh instansi terkait untuk mempercepat penanganan di lapangan.
"Peristiwa kebakaran hutan di kawasan Gunung Wawar, Petak 23 RPH Watubonang, BKPH Ponorogo Barat menjadi perhatian bersama. Perum Perhutani bergerak cepat melakukan koordinasi dan penanganan di lapangan bersama unsur lintas sektoral, meliputi TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, relawan, dan masyarakat," ujarnya, Rabu (15/7/2026).
Menurut Jhevi, keberhasilan mengendalikan kebakaran sangat bergantung pada sinergi seluruh pihak. Tidak ada satu instansi pun yang mampu menghadapi ancaman kebakaran hutan secara sendiri-sendiri, terlebih ketika kondisi alam mendukung cepatnya penyebaran api.
Sinergi juga terus diperkuat antara Perhutani BKPH Ponorogo Barat dan Polsek Jambon dalam mitigasi Gangguan Keamanan Hutan (Gukamhut) sekaligus pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Melalui komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi yang berkesinambungan, kawasan hutan diharapkan tetap aman, kondusif, serta terhindar dari berbagai potensi gangguan.
"Penanganan ini merupakan wujud sinergi dan kolaborasi semua pihak dalam upaya memadamkan api, mencegah perluasan kebakaran, serta melindungi kawasan hutan. Kami mengapresiasi dukungan dan kerja sama seluruh pihak yang telah terlibat," katanya.
Namun, bagi Perhutani, pemadaman hanyalah satu bagian dari upaya besar menjaga kelestarian hutan. Pencegahan tetap menjadi langkah paling efektif, terutama saat musim kemarau yang identik dengan meningkatnya potensi kebakaran.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu api, seperti membakar lahan, membuang puntung rokok sembarangan, maupun menyalakan api di kawasan hutan. Kelalaian sekecil apa pun dapat berubah menjadi bencana yang mengancam lingkungan sekaligus keselamatan masyarakat.
"Hutan merupakan aset negara sekaligus penyangga kehidupan. Oleh karena itu, menjaga kelestariannya merupakan tanggung jawab bersama. Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga kawasan hutan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api atau indikasi kebakaran kepada petugas," tegas Jhevi.
Ke depan, Perhutani berharap semangat kolaborasi yang telah terbangun tidak hanya hadir saat kebakaran terjadi, tetapi juga menjadi budaya bersama dalam menjaga hutan. Sebab, di balik tegaknya pepohonan Gunung Wawar, tersimpan harapan akan lingkungan yang lestari, sumber air yang tetap terjaga, dan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.(AZ)
