BUNDA LISDYARITA : KEMENANGAN YANG TIDAK PERNAH DITINGGALKAN
![]() |
| Plt Bupati Ponorogo Hj. Lisdyarita, S. H |
Mari kita jernihkan kembali satu hal yang sering kabur dalam riuh politik, bahwa kemenangan tidak pernah lahir dari satu tangan. Ia adalah akumulasi harapan, kerja keras, kesetiaan, dan juga pengorbanan yang terlihat maupun yang sunyi. Dan relawan adalah bagian penting dari itu.
Mereka hadir tanpa kontrak, tanpa jaminan, tanpa imbalan. Mereka bekerja senyap, mengetuk pintu ke pintu, meyakinkan yang ragu, menguatkan yang goyah. Dalam setiap kemenangan politik, selalu ada jejak langkah relawan yang tak tercatat di laporan resmi, tapi hidup dalam ingatan sejarah.
Namun hari ini, muncul satu kegelisahan, seolah-olah mereka yang dulu berjalan di barisan depan kini ditinggalkan. Seolah-olah ada jarak yang melebar antara kekuasaan dan kesetiaan. Benarkah demikian? Ataukah kita sedang melihat perubahan fase dari perjuangan menuju pengelolaan?
Dari Arena Kontestasi ke Arena Pengabdian
Lisdyarita hari ini tidak lagi berdiri di panggung kampanye. Ia berdiri di ruang yang jauh lebih sunyi, lebih berat, dan lebih kompleks, yaitu ruang pengambilan keputusan.
Ia tidak lagi berbicara untuk memenangkan suara, tetapi untuk memastikan setiap kebijakan menyentuh kehidupan masyarakat luas, termasuk mereka yang dulu tidak memilihnya. Di sinilah pergeseran itu terjadi. Jika dalam kontestasi, loyalitas menjadi energi utama, maka dalam pemerintahan, yang dibutuhkan adalah keseimbangan, stabilitas, dan keterbukaan.
Kita tahu, Lisdyarita menjadi (Plt) Bupati karena kecelakaan politik yang tidak biasa. Setidaknya ada tiga beban yang tak mudah diselesaikan dalam waktu singkat. Pertama, ia memikul tanggung jawab sebagai bupati tanpa wakil. Kedua, Lisdyarita berada dalam fase transisi kepemimpinan yang membutuhkan konsolidasi cepat. Ketiga, ia dihadapkan pada tuntutan efisiensi dan penataan ulang tata kelola pemerintahan.
Dalam kondisi seperti ini, merangkul berbagai pihak, termasuk mereka yang dulu berada di luar barisan bukanlah bentuk pengingkaran, melainkan keharusan politik dan administrasi. Sebab pemerintahan bukan milik satu kelompok. Ia adalah rumah bersama.
Merangkul Bukan Berarti Melupakan
Sering kali kita terjebak dalam logika sederhana, jika yang dulu berseberangan kini dirangkul, maka yang setia pasti ditinggalkan. Padahal politik tidak bekerja dengan logika hitam-putih.
Merangkul adalah bagian dari menyembuhkan luka sosial. Mengajak kembali mereka yang pernah berbeda adalah cara memastikan tidak ada energi yang tersisa untuk konflik berkepanjangan. Dan justru di titik ini, kepemimpinan diuji. Apakah ia mampu melampaui sekat-sekat lama, tanpa kehilangan akar yang membawanya sampai ke titik ini?
Lisdyarita tidak melupakan. Ia sedang memperluas. Ia tidak meninggalkan. Ia sedang merangkul lebih banyak. Karena kemenangan yang sejati bukanlah kemenangan yang eksklusif, melainkan kemenangan yang mampu menjadi milik semua.
Dari Fondasi Kemenangan ke Penjaga Arah
Relawan tidak pernah kehilangan tempat. Hanya saja, tempat itu berubah. Dari barisan depan kampanye, menjadi bagian dari ekosistem yang menjaga arah pemerintahan. Dari penggerak kemenangan, menjadi penjaga nilai.
Peran ini mungkin tidak selalu terlihat. Tidak selalu diberi panggung. Tapi justru di situlah letak kedewasaannya. Relawan bukan sekadar alat politik sesaat. Mereka adalah memori hidup dari perjuangan, sekaligus kompas moral yang mengingatkan kekuasaan agar tidak kehilangan arah.
Lisdyarita Bukan Milik Satu Kelompok
Lisdyarita hari ini bukan hanya milik relawan, bukan hanya milik pendukung, dan bukan hanya milik mereka yang dulu berada dalam barisan pemenangan. Ia adalah milik Ponorogo. Ia adalah simbol dari kemenangan bersama. Kemenangan yang tidak boleh dikerdilkan menjadi milik satu kelompok, betapapun besar kontribusinya.
Seperti seorang ibu, ia tidak memilih anak mana yang lebih dekat atau lebih berjasa. Ia merangkul semua yang setia, yang pernah pergi, bahkan yang pernah menolak. Bukan karena melupakan, tetapi karena memahami bahwa kepemimpinan adalah tentang merawat, bukan membalas.
Kita Butuh Jembatan, Bukan Jurang
Kegelisahan relawan bukan sesuatu yang harus disangkal, namun perlu ditempatkan dalam perspektif yang lebih luas. Hari ini kita tidak lagi berada dalam fase perebutan kekuasaan, tetapi ujian menjaga kepercayaan. Maka yang dibutuhkan bukanlah memperlebar jarak, tetapi membangun jembatan.
Bagi Lisdyaruta, relawan tetap akan dirawat. Didengarkan suaranya, dilibatkan dalam ruang-ruang partisipasi, diakui kontribusinya. Bukan sekadar dalam kata, tetapi dalam sistem.
Namun di sisi lain, kepemimpinan juga perlu diberi ruang untuk bekerja. Menata ulang yang belum rapi, mengambil keputusan yang kadang tidak populer, merangkul semua pihak demi stabilitas.
Kemenangan yang Belum Selesai
Kemenangan sejatinya tidak berhenti saat hasil diumumkan. Ia baru dimulai ketika amanah dijalankan. Relawan adalah bagian dari sejarah itu. Dan sejarah tidak pernah dihapus hanya karena halaman baru ditulis.
Dalam konteks ini, Lisdyarita tidak meninggalkan siapa pun. Ia sedang berjalan lebih jauh, membawa semua yang pernah percaya, dan juga mereka yang baru ingin percaya. Karena pada akhirnya, kepemimpinan yang kuat bukan yang berdiri di atas satu barisan, tetapi yang mampu menjadi rumah. Rumah yang selalu terbuka untuk siapapun yang datang
Tanpa merasa ditinggalkan.!
Penulis : RS
