Meriah dan Penuh Hikmad, Malam SelikuranTradisi Spiritual yang Terus Menyala Bersama SISKS Pakoe Boewono XIV Purboyo
Surakarta | Metrowilis.com- Malam ke-21 Ramadan atau yang dikenal masyarakat Jawa sebagai malem selikuran kembali menghadirkan suasana meriah dan penuh khidmat di kawasan Surakarta pada Senin malam (9/3/2026).
Ratusan jamaah memadati lokasi pengajian akbar yang digelar oleh Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat sebagai bagian dari tradisi turun-temurun menyambut sepuluh malam terakhir Ramadan.
Lampu-lampu temaram dan lantunan doa menciptakan atmosfer religius yang kuat. Para abdi dalem keraton duduk bersila bersama masyarakat, menyatu dalam doa dan harapan di bulan suci. Malam itu terasa istimewa karena menghadirkan ulama kharismatik dari Sleman, Ahmad Muwafiq atau yang akrab disapa Gus Muwafiq, yang memberikan tausiyah penuh makna kepada para jamaah.
Kehadiran Raja Pakubuwono XIV atau SISKS Pakoe Boewono XIV Purboyo bersama keluarga keraton semakin menambah kekhidmatan acara. Di tengah masyarakat dan para abdi dalem, raja tampak mengikuti rangkaian acara dengan khusyuk—sebuah simbol kuat bahwa tradisi keraton tidak hanya menjaga budaya, tetapi juga merawat nilai-nilai spiritual Islam.
Tidak hanya unsur keraton, sejumlah pejabat daerah juga tampak hadir, di antaranya Wali Kota Surakarta, Kapolres, jajaran Kodim serta unsur Forkopimda. Kehadiran mereka mencerminkan dukungan terhadap pelestarian tradisi religius yang telah lama menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Solo.
Dalam tausiyahnya, Gus Muwafiq menekankan bahwa malam selikuran merupakan momentum penting bagi umat Islam untuk meningkatkan ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan.
“Tradisi ini bukan sekadar seremoni, tetapi cara masyarakat Jawa merawat spiritualitas sekaligus menjaga warisan leluhur,” ujar Gus Muwafiq di hadapan jamaah.
Ia menjelaskan bahwa tradisi seperti malem selikuran menjadi contoh bagaimana nilai-nilai Islam dapat hidup berdampingan dengan budaya lokal. Menurutnya, kearifan budaya tersebut justru memperkaya cara masyarakat Nusantara memahami dan mengamalkan ajaran agama.
Rangkaian kegiatan malam itu diakhiri dengan doa bersama yang dipanjatkan untuk keselamatan bangsa serta ketentraman lingkungan keraton. Para jamaah berharap keberkahan Ramadan membawa kedamaian bagi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian tradisi luhur yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Sementara itu, juru bicara raja, KPA Singonagoro, menegaskan bahwa tradisi malem selikuran yang diselenggarakan keraton memiliki makna spiritual yang mendalam.
Menurutnya, melalui kirab, doa bersama dan pengajian umum, keraton berharap memperoleh keberkahan di bulan suci Ramadan sekaligus mengajak masyarakat untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
“Tradisi ini adalah warisan budaya yang telah dijaga turun-temurun oleh keraton dan masyarakat Surakarta. Di dalamnya terdapat perpaduan antara nilai-nilai keislaman dan kearifan budaya Jawa,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa keraton memiliki tanggung jawab moral untuk merawat warisan leluhur agar tetap hidup di tengah masyarakat modern.
“Warisan ini bukan hanya milik keraton, tetapi juga bagian dari identitas dan kekayaan budaya bangsa yang harus dijaga bersama,” tandasnya.
Di tengah perubahan zaman, tradisi malem selikuran di Keraton Surakarta tetap menyala—menjadi pengingat bahwa spiritualitas, budaya, dan kebersamaan dapat berjalan beriringan dalam kehidupan masyarakat Jawa.(AZ) 🌙✨

