Menunggu Tumbang: Ancaman Sunyi di Jalur Sooko–Pulung
Ponorogo | Metrowilis.com - Angin pagi berembus pelan di jalur Sooko–Pulung. Kendaraan roda dua dan empat melintas silih berganti, sebagian pengendara tampak sedikit menepi, memperlambat laju saat melewati satu titik yang kini menjadi perhatian. Di sana, sebatang pohon milik Perum Perhutani PKPH Pulung menggantung, patah di bagian batangnya, seolah menunggu waktu untuk benar-benar jatuh.
Daun-daunnya telah mengering. Warna hijau yang biasanya meneduhkan kini berubah kusam, menandakan kondisi itu bukan terjadi sehari dua hari. Warga sekitar memperkirakan, pohon tersebut sudah dalam keadaan membahayakan sejak sekitar satu minggu lalu.
“Kalau angin kencang, kami khawatir sekali,” ujar seorang pengguna jalan yang kerap melintas di jalur tersebut.
Bagi masyarakat, jalur Sooko–Pulung bukan sekadar jalan biasa. Ia adalah urat nadi penghubung aktivitas warga, mulai dari ekonomi hingga mobilitas harian. Namun kini, di balik rutinitas itu, tersimpan ancaman yang menggantung—secara harfiah.
Asper BKPH Pulung, Triono, saat dikonfirmasi menyebut dirinya tengah mengikuti rapat di Sukun dan mengarahkan konfirmasi lebih lanjut kepada KRPH Gunung Tukul, Nanang. Di sisi lain, Nanang mengaku telah memerintahkan jajarannya untuk segera menindaklanjuti.
Dua mandor bahkan disebut telah diminta untuk mengoordinasikan penebangan. Namun realitas di lapangan berkata lain—pohon itu masih menggantung, belum tersentuh alat tebang.
“Kami sudah lama menyuruh tukang tebang, tapi sampai saat ini belum dipotong,” ungkap salah satu mandor.
Situasi ini bukan sekadar soal lambannya penanganan, tetapi juga tentang ingatan kolektif yang belum sepenuhnya hilang. Di titik yang sama, pernah terjadi peristiwa pohon tumbang yang merenggut nyawa pengguna jalan. Kenangan itu masih membekas, menjadi pengingat bahwa ancaman seperti ini bukan hal sepele.
Setiap kendaraan yang melintas hari ini, seakan sedang bertaruh dengan kemungkinan terburuk. Tidak ada yang tahu kapan batang rapuh itu akan menyerah pada gravitasi.
Masyarakat pun hanya bisa berharap—agar kejadian serupa tidak terulang. Bahwa sebelum pohon itu benar-benar tumbang, akan ada tindakan nyata yang lebih cepat dari waktu yang terus berjalan.(AZ)

