Babinsa Hadir di Sawah, Pendampingan Petani Wujud Nyata Bantu Petani
PONOROGO | Metrowilis.com — Mentari pagi baru saja menghangatkan hamparan sawah di Kelurahan Kertosari, Kecamatan Babadan. Di antara petani yang sibuk menyiangi rumput liar, tampak seorang prajurit TNI turut membungkuk, tangannya cekatan membersihkan gulma di sela tanaman padi. Ia adalah Sertu Dwi Mufidin, Babinsa dari Koramil Tipe B-0802/03 Babadan, jajaran Kodim 0802/Ponorogo.
Bagi sebagian orang, pemandangan tersebut mungkin biasa. Namun bagi para petani, kehadiran Babinsa di sawah adalah suntikan semangat sekaligus bukti nyata bahwa mereka tidak berjalan sendiri.
Pendampingan yang dilakukan para Bintara Pembina Desa (Babinsa) bukan sekadar formalitas program. Sejak tahap penyiapan lahan, penyemaian benih, perawatan, hingga panen, keterlibatan mereka menjadi bagian dari strategi membangun ketahanan pangan dari desa.
“Pendampingan dan pengawalan merupakan salah satu tugas pokok kami dalam rangka membantu suksesnya pertanian di tingkat desa guna terwujudnya swasembada pangan nasional,” ujar Sertu Dwi Mufidin di sela kegiatan, Rabu (04/03/2026).
Hari itu, ia membantu penyiangan rumput di lahan seluas dua kotak milik Suroso, anggota Kelompok Tani Sri Rejeki. Gulma yang tumbuh liar dibersihkan agar tidak mengganggu pertumbuhan padi yang sedang memasuki fase penting.
Langkah kecil di petak sawah tersebut sejatinya menjadi bagian dari cita-cita besar: memperkuat ketahanan pangan nasional. Dengan percepatan masa tanam dan perawatan optimal, produktivitas diharapkan meningkat, sekaligus menjaga stabilitas hasil panen petani.
Para petani pun merasakan manfaatnya. Kehadiran Babinsa tak hanya membantu secara fisik, tetapi juga memotivasi agar mereka tetap optimistis menghadapi tantangan cuaca, hama, maupun fluktuasi hasil pertanian.
Ke depan, pola pendampingan seperti ini diharapkan terus berlanjut dan semakin terintegrasi dengan program pertanian daerah. Sinergi antara aparat kewilayahan dan kelompok tani diyakini mampu menciptakan ekosistem pertanian yang lebih tangguh, modern, dan berdaya saing.
Di tengah dinamika zaman dan tantangan sektor pangan, sawah-sawah di Kertosari menjadi saksi bahwa swasembada bukan sekadar slogan. Ia tumbuh dari kebersamaan, dari kerja nyata di lapangan, dan dari tangan-tangan yang tak ragu bergotong royong demi masa depan pangan Indonesia.
(MdC/AZ)
