Karaton Surakarta Menyapa Luka: Tali Asih dan Kepedulian Pakubuwono XIV untuk Korban Pengeroyokan
SURAKARTA | Metrowilis. Com- Di tengah riuh dinamika Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat pasca-insiden pada agenda kunjungan Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon, hadir secercah empati dari dalam tembok agung Karaton. Malam itu, Senin (19/1/2026), langkah KPA Singonagoro memasuki kediaman seorang warga Baluwarti bernama R menjadi simbol bahwa Karaton masih menyalakan nur rasa dan tanggung jawab moral kepada kawula-nya.
R, warga sederhana yang menjadi korban pengeroyokan saat acara penyerahan Surat Keputusan kepada Panembahan Tedjowulan, menerima kedatangan utusan langsung dari Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono XIV. Di tangan KPA Singonagoro, terselip pesan pribadi dari Sang Raja: perhatian, kasih sayang, dan doa agar luka itu segera sembuh—baik di tubuh maupun di hati.
Di ruang tamu sederhana itu, selembar batik diserahkan. Bukan sekadar kain, melainkan simbol perhatian dari raja kepada rakyatnya. Sebab, saat peristiwa tragis itu terjadi, pakaian yang dikenakan R sempat dirobek-robek oleh pelaku. Kini, batik itu menjadi pengganti, dan mungkin juga pelipur.
“Kami datang atas amanah langsung dari Sinuhun Pakubuwono XIV. Sinuhun menyampaikan rasa prihatin mendalam, memberi tali asih, serta memastikan seluruh biaya pengobatan korban ditanggung hingga selesai,” tutur KPA Singonagoro dengan suara yang penuh ketulusan.
Sebagai Juru Bicara sekaligus Pengageng Keamanan Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KPA Singonagoro menegaskan bahwa insiden itu menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. “Karaton adalah rumah budaya dan rumah persaudaraan. Sinuhun berharap kejadian seperti ini tidak terulang kembali. Mari bersama-sama menjaga keteduhan, kedamaian, dan martabat Karaton Surakarta,” ujarnya.
Langkah cepat dan penuh empati ini memperlihatkan wajah lain dari Karaton—bukan sekadar penjaga warisan leluhur, tetapi juga pengayom rakyat Baluwarti yang hidup berdampingan dengan dinding sejarah.
Bagi masyarakat sekitar, kehadiran utusan raja di malam itu bukan hanya membawa bantuan, tapi juga harapan. Bahwa Karaton masih hadir, masih peduli, dan masih menjadi rumah besar tempat setiap warganya bisa berteduh dalam nilai-nilai kemanusiaan dan budaya Jawa yang luhur.
Dan dari kediaman kecil di Baluwarti itu, pesan lembut Sinuhun Pakubuwono XIV mengalir ke seluruh penjuru Surakarta:
Bahwa dalam badai perbedaan dan gejolak, kasih tetap menjadi bahasa paling tinggi yang bisa diucapkan oleh seorang raja kepada rakyatnya.(red)
