BREAKING NEWS

HPN 2026, AWDI Ponorogo Hadirkan Warna Baru: Dari Pena untuk Kemanusiaan Rehap 4 Rumah Tak Layak Huni, Santuni Anak Yatim dan Kaum Dhu'afa'

 


PONOROGO | Metrowilis.com- Pagi itu, Rabu (11/2/2026), suasana di Joglo Kesenian Agung Sari, Desa Paringan, Kecamatan Jenangan, terasa hangat dan penuh semangat. Tak sekadar perayaan tahunan, peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang digelar DPC Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia (AWDI) Ponorogo menjelma menjadi panggung kepedulian sosial.

Alih-alih seremoni dan pidato panjang, para wartawan turun tangan langsung menyalurkan bantuan, memperbaiki rumah warga, hingga menyerahkan gerobak dan modal usaha bagi masyarakat kecil.



Dari Pena Menuju Aksi

Ketua DPC AWDI Ponorogo, M. Anang Sastro, menegaskan bahwa HPN kali ini bukan sekadar ritual tahunan bagi insan pers.

“Kami ingin menunjukkan bahwa pers tidak hanya menulis berita, tapi juga bisa menyalurkan kebaikan. HPN 2026 ini kami maknai dengan aksi nyata—membangun, membantu, dan menginspirasi,” ujar Anang penuh semangat.

Empat titik bedah rumah menjadi bukti nyata komitmen tersebut: dua di Desa Talun, Kecamatan Ngebel, satu di Desa Paringan, Kecamatan Jenangan, dan satu lagi di Desa Campursari, Kecamatan Sambit.

Sementara dua unit gerobak usaha dan modal tunai disalurkan ke pelaku UMKM di Desa Poko, Kecamatan Jambon, dan Desa Talun, Ngebel.

Tak berhenti di sana, pembagian sembako dan santunan bagi anak yatim piatu turut mewarnai kegiatan penuh makna ini.

Kolaborasi Tiga Pilar: Pers, Pemerintah, dan Baznas

 Kegiatan sosial tersebut menghadirkan banyak pihak—mulai dari Ketua DPRD Ponorogo Dwi Agus Prayitno, perwakilan Baznas Ponorogo, unsur TNI-Polri, Camat Jenangan, hingga Kepala Desa Paringan Wendi S.Sos., M.M.


Kehadiran mereka menandakan satu hal: kolaborasi lintas sektor yang nyata dan berdampak.

Dalam sambutannya, Dwi Agus Prayitno menilai perayaan HPN versi AWDI Ponorogo berbeda dari biasanya.

“Rasanya lain. HPN kali ini bukan hanya tentang seremoni, tapi tentang aksi nyata. Ada bedah rumah, santunan, pembagian sembako, hingga pemberian modal usaha. Ini bentuk jurnalisme yang menyentuh hati,” tuturnya.

Ia juga menegaskan pentingnya peran pers yang profesional dan berintegritas.

“Pers tetap harus menjalankan fungsi kontrol secara akurat dan bertanggung jawab. Tapi di sisi lain, seperti yang dilakukan AWDI hari ini, pers juga bisa menjadi mitra strategis pembangunan,” lanjutnya.

Sementara itu, Yuni Achad Diana, M.E., perwakilan Baznas Ponorogo, menyebut kolaborasi ini sebagai bentuk sinergi kemanusiaan.

“Ketika lembaga zakat, pemerintah, dan insan pers bersatu, dampaknya luar biasa. Bantuan ini bukan sekadar meringankan beban, tapi menumbuhkan harapan dan kemandirian,” ungkapnya.



Suara dari Desa

 Di sela acara, Kepala Desa Paringan, Wendi S.Sos., M.M., menyampaikan rasa terima kasih kepada AWDI dan Baznas.

“Bantuan ini sangat berharga bagi warga kami. Bedah rumah dan bantuan lainnya benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat. Terima kasih atas perhatian dan kepeduliannya,” katanya.

Wajah sumringah juga tampak dari para penerima manfaat. Di salah satu sudut acara, seorang ibu paruh baya tampak memeluk gerobak barunya—simbol harapan baru untuk memulai usaha kecil yang telah lama tertunda.

Pers Sebagai Jembatan Kebaikan

 Peringatan HPN 2026 versi AWDI Ponorogo seolah membuka babak baru dalam dunia jurnalisme lokal. Bahwa kekuatan pena tidak hanya mampu menulis kritik dan kabar, tetapi juga bisa mengetuk hati, menggugah empati, dan menggerakkan perubahan.

Kegiatan sosial ini menjadi bukti bahwa jurnalisme sejati adalah jurnalisme yang hidup di tengah masyarakat—hadir, mendengar, dan ikut membantu.

Sebagaimana pesan M. Anang Sastro di akhir acara:

“Kami ingin menjadikan momentum HPN sebagai gerakan kemanusiaan. Selama masih ada masyarakat yang perlu dibantu, di situlah insan pers harus hadir.”

Dari Pena, Lahirlah Kepedulian

Melalui tangan-tangan wartawan AWDI Ponorogo, HPN 2026 bukan hanya dirayakan dengan tulisan—tapi diwujudkan lewat tindakan nyata.

Dan mungkin, di tahun-tahun mendatang, sejarah akan mencatat: di sebuah joglo sederhana di Ponorogo, pers telah menemukan kembali makna sejatinya—mengabdi kepada kemanusiaan.(AZ) 

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar